Doa-Doa Seorang Wanita Yang Setia Dijawab

Doa-Doa Seorang Wanita Yang Setia Dijawab

Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta daripada-Nya.” (1 Samuel 1:27)

Elkana, seorang Lewi dari Bukit Efraim, adalah seorang yang kaya dan berpengaruh, dan seorang yang mengasihi dan takut akan Allah. Istrinya, Hana, adalah seorang yang beribadat dengan sungguh-sungguh. Lemah-Lembut dan tidak sombong, tabiatnya ditandai oleh kesungguh-sungguhan yang dalam dan iman yang teguh.

Berkat yang dengan sungguh-sunguh dicari oleh setiap orang israel tidak diberikan kepada pasangan yang beribadat ini, rumah tangga mereka tidak digembirakan oleh suara anak-anak; dan keinginan untuk mengabdikan namanya memimpin suami itu-sebagaimana itu telah memimpin banyak orang lainnya-melakukan perkawinan yang kedua. Tetapi langkah ini, yang didorong oleh karena kurang iman dalam Allah, tidak memberikan kebahagiaan. Anak-anak lelaki dan perempuan ditambahkan ke dalam rumah tangga; tetapi kesukaan dan keindahan lembaga Allah yang suci itu telah dinodai, dan suasana damai di dalam keluarga telah dirusak. Penina, istri yang baru itu, cemburu dan berpikiran sempit, dan ia adalah seorang yang sombong dan tidak tahu malu. Kepada Hana, harapan kelihatannya telah musnah, dan kehidupan terasa sebagai suatu beban yang menjemukan; namun demikian ia menghadapi ujian itu dengan rendah hati dan tidak bersungut….

Beban yang ia tidak dapat bagikan kepada sahabat di dunia ini, ia serahkan kepada Allah. Dengan sungguh-sungguh dia memohon agar ia mau mengangkat kehinaannya itu, dan memberikan kepadanya satu karunia yang indah berupa seorang anak lelaki untuk dipelihara dan didik bagi Dia. Dan dia mengadakan satu janji yang khidmat bahwa jikalau permohonan nya itu dikabulkan, dia akan menyerahkan anaknya itu kepada Allah, sejak dari lahirnya….

Doa hana dikabulkan; ia menerima pemberian yang untuknya ia telah berdoa dengan sungguh-sungguh. Apabila ia melahirkan anak itu, ia menamai dia Samuel-”Aku telah memintanya daripada TUHAN.” Segera setelah anak itu cukup besar untuk berpisah dari ibunya, ia menggenapi janjinya….

Dari Silo, dengan diam-diam Hana telah kembali ke rumahnya di Rama, meninggalkan anaknya Samuel untuk dilatih bagi pekerjaan di rumah Tuhan, di bawah petunjuk imam besar. Sejak anak itu mulai berpikir, ia telah mengajar anaknya mengasihi dan menghormati Allah, dan menganggap dirinya sebagai milik Allah. Melalui segala sesuatu yang biasa yang ada di sekelilingnya, ia telah berusaha mengarahkan pikirannya kepada Khalik itu. Bilamana terpisah dari anaknya, dengan setia doa ibu itu tidak henti-hentinya dilayangkan….Ia tidak meminta kebesaran duniawi bagi anaknya itu, tetapi dengan sunggguh-sungguh dia memohon agar ia dapat mencapai kebesaran yang dinilai oleh Surga, agar ia dapat menghormati Allah, dan menjadi berkat bagi sesama manusia.

Memandang Pada Yesus Dalam Doa

Memandang Pada Yesus Dalam Doa

Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan. (Yohanes 3:14)

Dari tengah-tengah perkemahan orang israel terdapat penderitaan dan kematian dari mereka yang menderita luka sengatan ular yang mematikan. Tetapi Yesus berbicara dari dalam tiang awan, dan memberi petunjuk dari mana mereka bisa disembuhkan. Janji telah disampaikan bahwa siapa saja yang memandang kepada ular tembaga hidup; dan mereka yang memandang pada janji tersebut telah terbukti. Tetapi jika seseorang berkata: ”Kebaikan apa yang akan dibuat oleh memandang? Saya sudah pasti akan mati oleh sengatan ular yang mematikan. ”Jika mereka terus membicarakan luka mereka yang mematikan dan menyerukan bahwa masalah mereka tidak ada harapan, dan tidak berbuat penurutan yang sederhana [memandang], mereka akan mati.” Tetapi mereka yang memandang, akan hidup….

Kita diajak untuk memandang pada Dokter Agung. ”Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” Selama kita memandang pada dosa kita, dan membicarakannya dan menyesali keadaan kita yang malang, luka-luka kita yang membusuk tidak akan sembuh. Tetapi ketika kita mengalihkan pandangan dari diri kita kepada juruselamat yang ditinggikan, jiwa kita menemukan harapan dan kedamaian. Firman tuhan berkata, memerintahkan kepada kita, ”Pandanglah dan hidup.” ”Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Diallah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Barangsiapa percaya kepada anak, ia beroleh hidup yang kekal .”

Ada alasannya mengapa kita harus didorong untuk berharap bagi keselamatan jiwa kita. Dalam yesus setiap persediaan [persyaratan] untuk keselamatan kita telah dibuat. Tidak peduli bagaimana kelemahan dan dosa kita, ada tersedia suatu sumber mata air dari rumah Daud untuk orang-orang najis yang berdosa. ”Marilah, baiklah kita berperkara!-firman TUHAN-Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kezumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Inilah firman Allah. Akankah kita menerimanya? Akankah kita percaya pada-Nya?

Doa Menuntun Kepada Pembaruan

Doa Menuntun Kepada Pembaruan

…dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalan-Nya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari surga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka. (2 Tawarikh 7:14)

Di dalam doa yang bersifat nubuatan yang dipersembahkan pada waktu bait suci ditahbiskan yang kini upacara-upacaranya sedang dipulihkan oleh Hiskia dan rekan-rekannya, Salomo telah berdoa, ”Apabila umat-Mu israel terpukul kalah oleh musuhnya karena mereka berdosa kepada-Mu, kemudian mereka berbalik kepada-Mu dan mengakui nama-Mu, dan mereka berdoa dan memohon kepada-Mu di rumah ini, maka Engkau pun kiranya mendengarkannya di Surga dan mengampuni dosa umat-Mu israel. ”1 Raja-raja 8:33,34.

Materai persetujuan ilahi tercantum di dalam doa ini; sebab pada akhir doa itu api telah turun dari langit untuk membakar persembahan dan korban-korban bakaran, dan kemuliaan Tuhan memenuhi bait suci itu. Lihat 2 Tawarikh 7:1. Pada waktu Tuhan menampakkan dari pada Salomo untuk mengatakan bahwa doanya sudah didengar, dan bahwa belas kasihan akan diberikan kepada mereka yang berbakti di sana….

Sudah bertahun-tahun lamanya Paskah tidak dirayakan sebagai pesta nasional. Terbaginya kerajaan itu sesudah berakhirnya pemerintahan Salomo telah menyebabkan hal ini tampaknya tidak dapat dijalankan. Tetapi hukuman mengerikan yang menimpa sepuluh suku itu menggerakkan hati beberapa orang yang menginginkan perkara-perkara yang lebih baik; dan pekabaran para nabi yang menggerakkan hati itu menunjukkan hasil-hasilnya….Yang keras kepala dengan mudah berbalik, tentunya mereka mempunyai kerinduan mencari Allah untuk memperoleh pengetahuan yang lebih jelas akan kehendak-Nya, ”merendahkan diri dan datang ke Yerusalem.”[2 Tawarikh 30:10, 11]-Patriarchs and Prophet, hlm. 335, 337.

Bagi israel yang menderita cuma satu obatnya-berbalik dari dosa-dosa yang telah mendatangkan hukuman Allah keatas mereka, dan dengan sepenuh hatinya berbalik kepada Allah. jaminan telah diberikan kepada mereka, ”bilamana Aku menutup langit, sehingga tidak ada hujan, dan bilamana Aku menyuruh belalang memakan habis hasil bumi, dan bilamana Aku melepaskan penyakit sampar diantara umat-Ku, dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari Surga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” 2 tawarikh 7:13, 14. Adalah untuk mengingat hasil yang diberkati pada masa yang lalu sehingga Allah tetap menahan dari mereka hujan dan embun sampai pembaruan yang ditentukan terlaksana.

Mengatasi Kebiasaan Buruk

Mengatasi Kebiasaan Buruk

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:13)

Warisan kecenderungan untuk berbuat dosa tidak hanya menghalangi kita untuk membuat pilihan tepat; kita juga menjadi sakit karena kencenderungan dosa yang kita miliki – kebiasaan buruk kita bertambah setelah dibuahi. Kecenderungan ini dikembangkan untuk hal yang tidak baik (kemalasan, keterlambatan, pelupa, dll.) berbeda dengan warisan yang baik yaitu membebaskan mereka, tidak hanya sekedar menolak, tetapi benar-benar dihapusnya – diberantas sama sekali!

Disisi lain, tuntutan bawaan secara daging saat kita dilahirkan (mementingkan diri sendiri, kesombongan, keserakahan, dll.) tidak dapat dilepas. Hal itu bisa dan harus ditundukkan, namun, sebagai penghalan yaitu keadaan dari sifat daging yang tidak murni, tidak dapat diberantas. Ini harus terus-menerus kita lawan, hal ini selalu hadir (bahkan jika terhenti) mendesak seperti yang digambarkan dalam kata-kata sang nabi: “Selama Setan memerintah, kita akan mempunya diri sendiri untuk ditaklukkan, dosa-dosa yang menyerang untuk diatasi; selama hidup itu akan bertahan, tidak akan ada tempat berhenti, tidak ada tempat yang dapat kita capai dan mengatakan, saya telah memperoleh dengan sepenuhnya. Penyucian adalah akibat penurutan seumur hidup”. Ellen White menyatakan bahwa: “Pada setiap tahapan perkembangan hidup kita bisa sempurna; namun jika maksud Allah dipenuhi bagi kita, akan ada kemajuan yang tetap. Penyucian adalah pekerjaan seumur hidup. Manakala kesempatan-kesempatan kita bertambah banyak, pengalaman kita semakin luas dan pengetahuan kita bertambah. Kita akan menjadi kuat untuk memikul tanggungjawab dan kedewasaan kita akan sebanding dengan kesempatan-kesempatan kita”

Sudahkah Surga menyediakan bantuan kepada kita untuk mengatasinya secara terus-menerus? Tuntuna Roh Kudus (Yohanes 16:13); diterangi oleh Kitab Suci (Mazmur 119:11); pengaruh yang menyegarkan dari kesaksian pribadi (Wahyu 12:13); serta kekuatan doa dan puasa (Matius 17:21).

Hal ini bukan berarti bahwa kita sudah pasti mampi mencapai kerajaan surga. Kita tidak mampu. Tetapi, “Kristus melihat kerinduan terbesar kita, dan ketika Dia melihat kita membawa beban kita dengan iman, kekudusan-Nya yang sempurna menebus kekurangan kita. Ketika kita melakukan yang terbaik, Dia menjadi kebenaran kita, dan “itu adalah kebenaran dan kesempurnaan Anak-Nya, yang mengambil atas diri-Nya sendiri dosa-dosa kita, kecacatan kita, kelemahan kita, jika kita mempertahankan hubungan yang baik bersama-Nya”

Perlengkapan Moral Kita

Perlengkapan Moral Kita

Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan akal budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna. (Roma 12:2)

Tindakan kita saat memilih adalah pekerjaan yang saling berhubungan dengan mekanisme pikiran, hal ini berhubungan dengan perlengkapan moral kita. Sama seperti mobil, televisi, atau jam tangan yang kita pakai memiliki mesin atau perangkat lunak yang menghubungkan nya dan menjadikan mekanisme pekerjaan itu saling berhubungan, Begitu juga dengan pilihan kita menuntun pada komponen moral yang sangat khusus. Tiga komponen utama yaitu hasrat kita (Galatia 5:16-17), pertimbangan kita (Yesaya 1:18), kehendak kita (Roma 7:18).

Dasar kesulitan kita adalah, saat kita lahir, semua unsur dalam diri kita bermasalah. Secara moral dikatakan, kita adalah “DOA” (dead on arrival) atau mati pada saat kita lahir/ada. Hasrat kita menyimpang, pertimbangan kita miring, kehendak kita lemah. Hanya ada satu solusi benar yang tersedia – kita harus membawa mesin kita yang rusak ini kepada Dia yang menciptakan kita, karena penyimpangan satu orang yaitu orang tua pertama kita; Seorang yang lain yaitu Yesus mengatakan: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu: (Matius 11:28). Hanya Dia sendiri yang dapat memperbaiki bagian-bagian kita yang rusak.

Bagaimanakah Dia melakukannya? Dia melakukannya melalui perantaraan Roh Kudus – secara khusus bekerja untuk menginsafkan seseorang. Dia membawa kita kepada Firman itu, dimana Dia mengerjakan bagian dari pekerjaan penebusan, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dia menyadarkan kita untuk disembuhkan, diubahkan, hidup dalam kuasa yang diberikan oleh Allah, dan kita diciptakan kembali sesuai dengan gambar-Nya. Perubahan itu tidak hanya melibatkan keinginan dasar kita untuk menurut, tetapi juga kemampuan kita untuk melaksanakannya – ini adalah untuk menghasilkan buah-buah dari pekerjaan kebenaran.

Tetapi perlengkapan moral hati kita tidak ditetapkan “sekali untuk selamanya.” Kita harus tetap mempersembahkannya secara terus-menerus kepada Allah untuk dijaga dan dipelihara-Nya. Kita harus “mati setiap hari” atau kita harus bertobat dari kelemahan kita. Itulah sebabnya, meskipin kita telah diubahkan atau meninggikan perasaan yang lebih mulia, selera kita, pertimbangan kita, dan kemauan tetap tinggal pada dagingn yang penuh dosa dan hanya dapat digunakan dengan tepat jika itu berada dibawa pengendalian Firman Tuhan. Itulah hubungan yang paling memuaskan dari segala sesuatu, pengalaman yang paling membahagiakan hati dari semua manusia dan satu-satunya cara untuk membuat keputusan yang tahan uji sampai pada kekekalan.

Inti Sari Kitab Suci

Inti Sari Kitab Suci

Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Ayub 19:25

Salah satu kebenaran yang paling khidmat, tetapi paling mulia yang dinyatakan dalam Alkitab ialah kedatangan Kristus yang kedua kali; untuk merampungkan pekerjaan besar penebusan. Umat Allah yang mengadakan perjalanan, telah lama dibiarkan mengembara di “negeri yang dinaungi maut,” suatu pengharapan yang berharga dan memberikan ilham yang menyenangkan telah dituangkan dalam bentuk perjanjian kedatangan-Nya, yang menjadi “kebangkitan dan hidup,” untuk “membawa kembali umat-Nya yang terbuang.” Ajaran tentang kedatangan yang kedua kali merupakan inti sari Kitab Suci. Sejak satt pasangan pertama melangkahkan kaki dengan sedih keluar dari Eden, maka anak-anak orang beriman sudah menunggu-nunggu kedatangan Oknum Perjanjian itu untuk menghancurkan kuasa si pembinasa dan membawa mereka kembali ke Firdaus yang hilang.

Henokh, yang hanyalah keturunan nomor tujuh dari mereka yang tinggal di Eden, yang berjalan dengan Allahnya di atas bumi selama tiga abad, telah diperkenankan memandang jauh lebih dulu akan dengan beribu-ribu orang kudus-Nya, hendak menghakimi semua orang.” Ayub sebagai bapa pada malam kesengsaraannya dengan kepercayaan yang tidak goyah berseru: “Aku tahu penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu: … tanpa dagingpun aku akan melihat Allah: yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku, mataku sendiri akan menyaksikan-Nya dan bukan orang lain.”

Kiranya Allah yang penuh kemurahan akan menerangi pengertianmu sehingga engkau boleh memahami perkara-perkara yang kekal, sehingga dengan terang kebenaran kesalahanmu yang amat banyak itu, dapat dibukakan kepadamu sebagaimana adanya, supaya engkau jauh, dan di dalam tempat kejahatan ini, buah yang pahit dapat mengeluarkan buah yang berharga untuk hidup kekal.

Persembahkanlah hatimu yang malang, sombong dan merasa benar sendiri di hadapan Allah; rendahkanlah diri dan serendah-rendahnya, hancurkan semua sifatm yang berdosa di kaki-Nya. Abdikan dirimu sendiri kepada pekerjaan persiapan. Janganlah berhenti sebelum engkau betul-betul dapat berkata: Penebusku hidup, dan sebab Ia hidup, maka akupun harus hidup.

Jika engkau kehilangan sorga, kau kehilangan segala-galanya; kalau kau memperoleh sorga kau memperoleh segala-galanya. Jangan melakukan kesalahan dalam hal ini, kumohon padamu dengan sangat. Keuntungan-keuntungan abadi tercakup disini.

Harapan Untuk Kedatangan Yang Kedua Kali

Harapan Untuk Kedatangan Yang Kedua Kali

Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: “Ya, Aku datang segera!” Amin, datanglah, Tuhan Yesus! Wahyu 22:20

Kedatangan Tuhan yang kedua kali telah menjadi pengharapan para pengikut-Nya yang benar sepanjang zaman. Janji Juruselamat waktu mengadakan perpisahan di atas bukit Zaitun, bahwa Ia akan datang kembali, menerangi masa depan murid-murid-Nya, mengisi hati mereka dengan kesukaan dan pengharapan yang tidak dapat dilunturkan oleh kesusahan atau dipadamkan oleh penderitaan. Di tengah-tengah penderitaan dan penganiayaan, “pernyataan kemuliaan Allah yang Maha Besar dan Juruselamat kita Yesus Kristus” adalah “pengharapan yang diberkati.” Ketika orang-orang Kristen di Tesalonika penuh dengan kesusahan manakala mereka menguburkan kekasih-kekasih mereka yang telah meninggal yan gberharap-harap dapat menyaksikan kedatangan Tuhan, Paulus guru mereka, menyatakan kepada mereka mengenai kebangkitan yang akan terjadi pada waktu Juruselamat datang. Maka orang-orang yang mati dalam Kristus akan bangkit, dan bersama-sama dengan yang masih hidup akan diangkat untuk bertemu dengan Tuhan di angkasa. “Demikianlah,” katanya, “kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini. 1 Tesalonika 4:16-18

Dari gua batu, tiang gantungan, tempat penyiksaan, di mana orang-orang saleh dan para martir bersaksi demi kebenaran, melalui berabad-abad terungkaplah iman dan pengharapan mereka. “Mendapat jaminan dari kebangkitan pribadi-Nya, dan atas kebangkitan mereka sendiri pada waktu kedatangan-Nya, maka untuk inilah,” kata salah satu dari orang-orang Kristen ini, “mereka tidak mempedulikan kematian, dan ternyata dapat mengatasinya.” – Daniel T. Taylor, dalam buku The Reign of Christ on Earth: atau The Voice of the Church in All Ages, hal. 33. Mereka itu rela turun ke kubur, supaya “Tuhan akan turun dari sorga dalam awan dengan kemuliaan Bapa-Nya, “membawa kepada orang-orang benar zaman kerjaan itu.” Orang-orang Waldensi memegang iman yang sama. Wycliffe mengharapkan kedatangan Juruselamat sebagai pengharapan gereja.

Di atas pulau Patmos yang berbatu-batu rasul yang kekasih itu mendengar janji, “Ya, Aku datang segera,” dan kerinduannya menyambut suara-suara sebagai doa gereja pada sepanjang perjalanan gereja itu, “Datanglah Tuhan Yesus.” Wahyu 22:20.

Kebiasaan Manusia

Kebiasaan Manusia

Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: ‘Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia dan bawalah Dia dengan selamat” (Markus 14:44)

Banyak yang berpikir bahwa memilih adalah kegiatan saat itu: bahwa kita memilih seperti yang kita jalani dan keputusan itu adalah respons terhadap dorongan yang diberikan atau keadaan yang sedang terjadi. Tetapi tidak demikian. Kita memilih sebagaimana kita telah memilih ribuan kali sebelumnya. Kita diciptakan dari pola yang sama, kebiasaan yang sama, dan dari instrumen yang sama. perasaan kita terbiasa dengan kesenangan. semua kecenderungan itu, bukan keputusan sesaat. setiap pilihan baik atau buruk adalah langkah untuk membuat perjalanan selanjutnya ke arah lebih mudah dan lebih baik. Kita memilih, bukan pada saat kita merespons, tetapi seperti yang telah dikondisikan oleh respons kita dari waktu ke waktu.

Ananias dan Safira tidak memilih untuk menahan milik Tuhan karena tiba-tiba ada dorongan untuk mementingkan diri sendiri. Keputusan mereka untuk menahan apa yang menjadi milik Tuhan telah dibentuk oleh tindakan ketamakan dan keserakahan yang berulang-ulang. Yusuf tidak memutuskan untuk hidup Suci atau Daniel tidak memprioritaskan doa berdasarkan kesetiaan palsu yang terjadi secara tiba-tiba. mereka selama bertahun-tahun, membangun pola hidup yang benar. dan Yudas tidak menghianati Tuhannya secara tiba-tiba. keputusannya yang fatal itu didorong, ditempa, dan ditetapkan selama bertahun-tahun, memilih yang dapat dilihat dengan mata belaka telah membentuk keinginan dan tindakannya melebihi apa yang ia dapat kendalikan. Begitu juga dengan kita semua. masa depan kita, pada umumnya, terletak pada kebiasaan kita.

Apakah anda memiliki kebiasaan yang sulit untuk Anda tinggalkan? Apakah hari ini, ini anda sementara berjuang dengan pola hidup atau pikiran jahat yang sulit untuk Anda tinggalkan? kabar baiknya adalah bahwa tidak Besar Ikatan kebiasaan yang mengikat kita dalam beberapa kebiasaan buruk yang tidak diinginkan, Yesus dapat membebaskan kita. dia tidak hanya pembuat cara, tetapi ia juga akan menghancurkan kebiasaan itu – dokter Agung yang siap untuk memotong kecenderungan kita untuk berbuat jahat serta mengendalikan pikiran dan keputusan kita.

Dengan keputusan yang tepat dan konsisten, kita pada akhirnya menjadi sangat terbiasa untuk mengambil keputusan secara benar, saat dicoba, berbalik secara alamiah datang kepada Allah untuk dituntun seperti bunga matahari yang selalu menghadap ke arah matahari. ini adalah janji yang penuh kuasa yang kita semua harus pilih untuk percaya, ya dan kebiasaan untuk percaya kepada Allah adalah yang paling penting dari segala yang lain.

Sesudah Yesus Dilahirkan

Sesudah Yesus Dilahirkan

Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” Matius 2:1,2

Raja kemuliaan merendahkan diri mengambil sifat manusia, dan malaikat yang telah menyaksikan kemuliaan-Nya yang luar biasa di dalam istana sorga, ketika Ia disembah oleh semua pasukan sorga, menjadi kecewa melihat Panglima ilahi mereka dalam kedudukan yang sangat hina.

Orang-orang Yahudi telah memisahkan diri mereka sendiri jauh sekali dari Allah dengan pekerjaan mereka yang jahat, sehingga para malaikat tidak dapat menyampaikan kepada mereka berita kedatangan bayi Penebus itu. Allah memilih orang majus dari Timur untuk melakukan kehendak-Nya.

Orang-orang majus ini telah melihat langit disinari dengan terang, yang menyelubungi pasukan sorga yang mengelu-elukan kedatangan Kristus kepada para gembala yang rendah derajatnya.

Terang ini adalah sekelompok malaikat yang bersinar-sinar di kejauhan, yang kelihatannya seperti bintang yang gemerlapan. Munculnya bintang besar yang terang-benderang yang menyimpang dari kebiasaan, yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, tergantung sebagai tanda di langit, menarik perhatian mereka. Orang majus itu mengarahkan perjalanan mereka ke mana bintang itu membawa mereka. Dan ketika mereka mendekati kota Yerusalem, bintang itu diselubungi oleh kegelapan, dan tidak lagi menuntun mereka. Mereka merasa bahwa tidak mungkin orang Yahudi tidak mengetahui akan peristiwa besar yaitu kedatangan Mesias, lalu mereka bertanya-tanya di sekitar Yerusalem.

Orang-orang majus itu terkejut melihat tidak ada perhatian luar biasa terhadap pokok pembicaraan tentang kedatangan Mesias. Mereka heran bahwa orang Yahudi tidak tertarik dan tidak bersuka-suka dalam menunggu-nunggu peristiwa yang besar ini yaitu kedatangan Kristus.

Gereja-gereja zaman kita sedang mencari kebesaran dunia, dan tidak berkeinginan melihat terang nubuatan-nubuatan dan menerima bukti-bukti kegenapannya yang menunjukkan bahwa Kristus segera akan datang, dan sama keadaannya dengan orang Yahudi pada kedatangan-Nya yang pertama kali. Mereka mengharapkan kekuasaan pemerintahan Mesias yang hanya bersifat duniawi di Yerusalem. Orang-orang yang mengaku Kristen pada zaman kita hanyalah mengharapkan kemakmuran gereja yang bersifat duniawi, berubah secara dunia, dan menyukai seribu tahun secara duniawi saja.

Raksasa Tetap Datang

Raksasa Tetap Datang

Lalu terjadi lagi pertempuran di Gat; dan di sana ada seorang yang tinggi perawakannya, yang tangannya dan kakinya masing-masing berjari enam: dua puluh empat seluruhnya; juga orang ini termasuk keturunan raksasa. 2 Samuel 21:20

Setiap hari masing-masing kita ditantang oleh raksasa pribadi kita – dorongan yang mengesankan dari dalam diri kita sendiri. Kita ada di dunia yang cenderung melakukan kejahatan, menyerukan untuk berbuar salah – cenderung mengutamakan sesuatu yang penuh dosa. Keadaan keinginan alamiah yang ada didalam diri kita terlihat dalam tindakan dan sikap dari setiap anak. Mementingkan diri, sombong, dan kecemburuan adalah warisan yang berlangsung tersu-menerus yang kita warisi dari Adam. Melawan kejahatan bawaan atau dendam hanya dapat dikalahkan oleh kuasa Roh Kudus. Itulah sebabnya mengapa tidak mungkin untuk memprioritaskan sesuatu cara benar tanpa tuntunan ilahi.

Mereka yang bukan kristen terkadang mampu mendapat keuntungan dari prioritas – pilihan yang memberikan hasil yang efektif. Tetapi kecuali motivasi mereka saat mengambil keputusan adalah karena iman, bahkan keputusan mereka yang baik sekalipun akan tidak menyenangkan Tuhan. Dietrich Bonhoeffer, seorang yang sangat baik dari German menjadi martir, menyebut prestasi yang baik tanpa motivasi khusus sebagai “kebaikan yang dicuri”; Agustine menyebutnya “kebetulan yang tepat”; dan Ellen menyatakan “panggung moralitas.” Semuanya mengingatkan kita bahwa hanya pencapaian yang baik dalam meresponse Firman Tuhan yang menyenangkan hati Tuhan.

Perjuangan Paulus setiap hari untuk menaklukkan keinginan daging pada dasarnya menjadi pelajaran yang baik bagi kita, Ellen menjelaskan: “Bahwa dia bukan berlari tanpa tujuan atau secara serampangan dalam perlombaan Kristen, Paulus menundukkan dirinya dalam latihan yang keras. Kata-kata itu berbunyi: Aku melatih tubuhku, arti yang sesungguhnya ialah mengalahkan hawa nafsu, keinginan hati bahkan disiplin yang kuat.

Semua pertimbangan kita setiap hari harus dimulai dengan menyerah kepada kehendak Allah. Hanya apabila kita mengingatkan diri kita kepada-Nya sebagai pokok anggur maka kita memiliki gizi dan kekuatan yang memadai untuk ujian pilihan setiap hari.

Daud, prajurit pemberani, membunuh bukan hanya raksasa Goliat, tetapi juga banyak raksasa lainnya. Adalah mungkin untuk mengatakan bahwa dalam peperangan melawan orang Filistin, raksasa tetap datang! Itu juga berlaku dalam kehidupan kita. Tetapi Kristus telah memberikan kita Roh Kudus, yang dengan kuasa-Nya kita dapat membunuh mereka. Dan jika semua kemenangan menjadi milik kita dalam pertempuran, itu karena kita bergantung pada kebijaksanaan dan kuasa-Nya, bukan pada diri sendiri.