Perlengkapan Moral Kita

Perlengkapan Moral Kita

Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan akal budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna. (Roma 12:2)

Tindakan kita saat memilih adalah pekerjaan yang saling berhubungan dengan mekanisme pikiran, hal ini berhubungan dengan perlengkapan moral kita. Sama seperti mobil, televisi, atau jam tangan yang kita pakai memiliki mesin atau perangkat lunak yang menghubungkan nya dan menjadikan mekanisme pekerjaan itu saling berhubungan, Begitu juga dengan pilihan kita menuntun pada komponen moral yang sangat khusus. Tiga komponen utama yaitu hasrat kita (Galatia 5:16-17), pertimbangan kita (Yesaya 1:18), kehendak kita (Roma 7:18).

Dasar kesulitan kita adalah, saat kita lahir, semua unsur dalam diri kita bermasalah. Secara moral dikatakan, kita adalah “DOA” (dead on arrival) atau mati pada saat kita lahir/ada. Hasrat kita menyimpang, pertimbangan kita miring, kehendak kita lemah. Hanya ada satu solusi benar yang tersedia – kita harus membawa mesin kita yang rusak ini kepada Dia yang menciptakan kita, karena penyimpangan satu orang yaitu orang tua pertama kita; Seorang yang lain yaitu Yesus mengatakan: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu: (Matius 11:28). Hanya Dia sendiri yang dapat memperbaiki bagian-bagian kita yang rusak.

Bagaimanakah Dia melakukannya? Dia melakukannya melalui perantaraan Roh Kudus – secara khusus bekerja untuk menginsafkan seseorang. Dia membawa kita kepada Firman itu, dimana Dia mengerjakan bagian dari pekerjaan penebusan, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dia menyadarkan kita untuk disembuhkan, diubahkan, hidup dalam kuasa yang diberikan oleh Allah, dan kita diciptakan kembali sesuai dengan gambar-Nya. Perubahan itu tidak hanya melibatkan keinginan dasar kita untuk menurut, tetapi juga kemampuan kita untuk melaksanakannya – ini adalah untuk menghasilkan buah-buah dari pekerjaan kebenaran.

Tetapi perlengkapan moral hati kita tidak ditetapkan “sekali untuk selamanya.” Kita harus tetap mempersembahkannya secara terus-menerus kepada Allah untuk dijaga dan dipelihara-Nya. Kita harus “mati setiap hari” atau kita harus bertobat dari kelemahan kita. Itulah sebabnya, meskipin kita telah diubahkan atau meninggikan perasaan yang lebih mulia, selera kita, pertimbangan kita, dan kemauan tetap tinggal pada dagingn yang penuh dosa dan hanya dapat digunakan dengan tepat jika itu berada dibawa pengendalian Firman Tuhan. Itulah hubungan yang paling memuaskan dari segala sesuatu, pengalaman yang paling membahagiakan hati dari semua manusia dan satu-satunya cara untuk membuat keputusan yang tahan uji sampai pada kekekalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *