Memilih Prioritas

Memilih Prioritas

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1).

Memilih secara sadar adalah hal yang lebih baik. Individu yang rencananya didorong oleh keadaan atau keinginan orang lain jarang mencapai tujuan yang diharapkan sesuai dengan potensi yang mereka miliki. Mereka mungkin puas atau bahkan bahagia, tetapi mereka tidak pernah menjadi efektif atau produktif seperti yang Tuhan inginkan atau seperti kemampuan dan kesempatan yang diberikan kepada mereka.

Intensional sehubungan dengan tujuan adalah penting untuk keberhasilan. Hasil pilihan prioritas dalam cara yang benar berhubungan dengan pilihan; konsentrasi berhubungan dengan terhadap energi; percaya diri berhubungan terhadap hasil; dan kejelasan berhubungan dengan evaluasi dan pertimbangan.

Yesus menjadikan keselamatan kita sebagai prioritas-Nya tanpa keraguan sedikitpun. Dia mempertimbangkan berbagai pilihan dengan hati-hati dan harus memilih, meskipun mengorbankan diri-Nya sendiri, untuk menebus kita. Pilihan-Nya membawa-Nya turun dari takhta kemuliaan-Nya, ditempatkan dirahim Maria, dan dilahirkan dalam rupa manusia berdosa. Kegiatan-Nya tersusun secara rapi saat berada di dunia ini: Kehidupan ibadah-Nya, kehidupan sosial-Nya, dan peran-Nya sebagai Pengkhotbah, Guru, Penyembuh, Nabi, Imam, dan Raja.

Dan Bapa menyetujui tindakan-Nya dengan pertimbangan yang paling sempurna. Ia mengatakan “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan (Mat. 3:17). Hal itu ditegaskan kembali, secara dramatis dinyatakan pada saat baptisan-Nya dan bahkan dibuktikan melalui pelayanan-Nya, yang memberinya kekuatan untuk bertahan dalam mengahadapi penolakan dan siksaan. Pilihan-Nya (menebus kita) adalah “pilihan-Nya yang paling mulia,” semua adalah karena kasih-Nya, misi dan mandat perngobanan-Nya untuk ciptaan yang telah hilang ini. Keyakinan-Nya untuk cipataan yang telah hilang ini. Keyakinan-Nya mengenai hasil pengorbanan-Nya sangat diuji oleh rasa tidak bersyukur kita, teteapi Dia bertahan dan dengan demikian memenuhi syarat sebagai korban yang sempurna.

Kita tidak akan pernah, dalam lingkungan duniawi kita, memahami arti memilih untuk tidak mementingkan diri sendri atau mengungkapkan pengharaan kita sepenuhnya. Tetapi kita bisa dan harus menanggapi kasih-Nya melalui penyerahan total kepada-Nya. Pilihan ini akan membawa kehidupan, bukan kematian; berkat; bukan kutuk (Ul. 30:19).

Karena penyerahan tersebut membawa terang ke dalam pikiran, menguatkan kemauan, membahagiakan hati, membersihkan jiwa-intinya, karena hal itu benar-benar penting untuk keselamatan pribadi kita, hal itu adalah yang paling masuk akal dan layak untuk semua pilihan hidup kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *