Mengatasi Kebiasaan Buruk

Mengatasi Kebiasaan Buruk

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:13)

Warisan kecenderungan untuk berbuat dosa tidak hanya menghalangi kita untuk membuat pilihan tepat; kita juga menjadi sakit karena kencenderungan dosa yang kita miliki – kebiasaan buruk kita bertambah setelah dibuahi. Kecenderungan ini dikembangkan untuk hal yang tidak baik (kemalasan, keterlambatan, pelupa, dll.) berbeda dengan warisan yang baik yaitu membebaskan mereka, tidak hanya sekedar menolak, tetapi benar-benar dihapusnya – diberantas sama sekali!

Disisi lain, tuntutan bawaan secara daging saat kita dilahirkan (mementingkan diri sendiri, kesombongan, keserakahan, dll.) tidak dapat dilepas. Hal itu bisa dan harus ditundukkan, namun, sebagai penghalan yaitu keadaan dari sifat daging yang tidak murni, tidak dapat diberantas. Ini harus terus-menerus kita lawan, hal ini selalu hadir (bahkan jika terhenti) mendesak seperti yang digambarkan dalam kata-kata sang nabi: “Selama Setan memerintah, kita akan mempunya diri sendiri untuk ditaklukkan, dosa-dosa yang menyerang untuk diatasi; selama hidup itu akan bertahan, tidak akan ada tempat berhenti, tidak ada tempat yang dapat kita capai dan mengatakan, saya telah memperoleh dengan sepenuhnya. Penyucian adalah akibat penurutan seumur hidup”. Ellen White menyatakan bahwa: “Pada setiap tahapan perkembangan hidup kita bisa sempurna; namun jika maksud Allah dipenuhi bagi kita, akan ada kemajuan yang tetap. Penyucian adalah pekerjaan seumur hidup. Manakala kesempatan-kesempatan kita bertambah banyak, pengalaman kita semakin luas dan pengetahuan kita bertambah. Kita akan menjadi kuat untuk memikul tanggungjawab dan kedewasaan kita akan sebanding dengan kesempatan-kesempatan kita”

Sudahkah Surga menyediakan bantuan kepada kita untuk mengatasinya secara terus-menerus? Tuntuna Roh Kudus (Yohanes 16:13); diterangi oleh Kitab Suci (Mazmur 119:11); pengaruh yang menyegarkan dari kesaksian pribadi (Wahyu 12:13); serta kekuatan doa dan puasa (Matius 17:21).

Hal ini bukan berarti bahwa kita sudah pasti mampi mencapai kerajaan surga. Kita tidak mampu. Tetapi, “Kristus melihat kerinduan terbesar kita, dan ketika Dia melihat kita membawa beban kita dengan iman, kekudusan-Nya yang sempurna menebus kekurangan kita. Ketika kita melakukan yang terbaik, Dia menjadi kebenaran kita, dan “itu adalah kebenaran dan kesempurnaan Anak-Nya, yang mengambil atas diri-Nya sendiri dosa-dosa kita, kecacatan kita, kelemahan kita, jika kita mempertahankan hubungan yang baik bersama-Nya”

Berdoa Dengan Dia Secara Terus Menerus

Berdoa Dengan Dia Secara Terus Menerus

Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! (1 Tawarikh 16:10-11)

Doa tidak dimengerti sebagai mana mestinya, Doa kita bukanlah memberitahukan sesuatu kepada Allah tentang apa yang belum diketahui-Nya. Tuhan mengetahui segala rahasia tiap-tiap jiwa, Doa kita tidak perlu panjang panjang atau diucapkan dengan nyaring, Allah membaca segala pikiran yang tersembunyi. Kita boleh berdoa dalam tempat yang tersembunyi itu, Dia akan mendengar dan membalas kepada kita dengan nyata-nyata.

Segala doa yang dipersembahkan kepada Allah untuk memberitahukan segala kesusahan kita, tetapi kita sendiri tidak merasa susah sedikitpun, doa yang demikian adalah doa yang munafik. Doa yang disertai dengan penyesalan itulah yang diterima Tuhan ‘’Sebab beginilah firman yang Mahatinggi dan Yang MahaMulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: ‘Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk‘’ Yesaya 57:15.

Maksud doa itu bukanlah untuk mengadakan suatu perubahan di pihak Allah; doa membawa kita di dalam persesuaian dengan Allah. Doa tidak menggantikan kewajiban Betapa pun banyaknya doa dilayangkan dan betapa sungguh-sungguh sekalipun doa itu, tidak pernah akan diterima oleh Allah sebagai pengganti perpuluhan kita. Doa tidak akan membayar utang kita kepada Allah.

Kekuatan yang kita peroleh dalam doa kepada Allah akan mempersiapkan kita menghadapi pekerjaan kita tiap hari. Doa itu menjadi sangat penting bagi kita yang menghadapi pencobaan setiap hari, Agar supaya kita selalu terpelihara oleh kuasa Allah melalui iman, maka segala kerinduan hati kita haruslah selalu dinaikkan kepada Tuhan dengan doa yang diam-diam.

Ketika kita dikelilingi oleh pengaruh-pengaruh yang hendak menyesatkan kita dari Allah, doa kita memohon pertolongan dan kekuatan haruslah dilayangkan dengan tidak berkeputusan. Tanpa berbuat demikian, kita tidak akan pernah berhasil menghancurkan perasaan kesombongan dan mengalahkan kuasa pencobaan terhadap pemanjaan dosa, yang menjauhkan kita dari juruselamat. Terang kebenaran yang menyucikan kehidupan, akan menyatakan kepada orang yang menerimanya segala nafsu dosa yang ada didalam hatinya, yang bergumul untuk mendapat kemenangan Harus merentangkan segala urat sarafnya dan mengerahkan segala kekuatannya untuk melawan setan, supaya ia bisa menang melalui jasa-jasa Kristus – Amanat kepada orang muda, hlm 229, 230

Memohon Kebijaksanaan Dan Kuasa

Memohon Kebijaksanaan Dan Kuasa

Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? (Mazmur 42:2-3)

Mereka yang pada hari pentakosta dipenuhi dengan kuasa dari atas, tidak dibebaskan dari penggodaan dan pergumulan selanjutnya, sedang mereka bersaksi untuk kebenaran mereka berulang kali diserbu oleh musuh segala kebenaran, yang berusaha merampok pengalaman Kristen mereka. Mereka dipaksa bergumul dengan kuasa yang dikaruniakan oleh Allah, untuk mencapai ukuran kedewasaan pria dan wanita didalam Kristus Yesus. Setiap hari mereka berdoa untuk persediaan rahmat, supaya mereka boleh mencapai lebih tinggi dan tetap lebih tinggi kepada kesempatan kesempurnaan Ilahi.

Di bawah pekerjaan Roh kudus, yang terlemah sekalipun, dengan melatih iman kepada Allah. Sebagaimana dalam kerendahan hati mereka menyerahkan diri kepada pengaruh yang membentuk dari Roh Kudus, mereka memperbolehkan kepenuhan Allah dan dibentuk menurut rupa Ilahi.

Berlalunya waktu tidak membuat perubahan janji perpisahan kristus untuk mengirim Roh Kudus, sebagai wakil-Nya. Bukannya karena suatu pembatasan di pihak Allah sehingga kekayaan anugerah tidak mengalir ke dunia kepada manusia. Kalau kegenapan nubuatan tidak kelihatan sebagaimana adanya, hal itu disebabkan karena janji tidak dihargai sebagaimana mestinya. Kalau semua orang rela, semua akan dipenuhi Roh. Di mana pun kebutuhan kebutuhan Roh Kudus merupakan suatu masalah yang diremehkan, di sana akan terlihat kekurangan rohani, kegelapan rohani, kemunduran dan kematian rohani.

Bila perkara kecil menguasai perhatian, kuasa ilahi yang perlu bagi pertumbuhan dan kemakmuran sidang, dan yang akan mengeluarkan segala berkat yang lain dalam usahanya, meskipun berkekurangan akan menerima kelimpahan yang tak terbatas. Rombongan pekerja-pekerja Kristen haruslah berkumpul untuk minta pertolongan istimewa, untuk hikmat Surga, agar mereka dapat mengetahui bagaimana merencanakan dan melaksanakannya dengan bijaksana, terutama mereka harus berdoa supaya Allah membaptiskan duta-duta pilihan-Nya di ladang Tuhan dengan suatu ukuran kekayaan akan Roh kudus bersama pekerja-pekerja Allah akan memberikan suatu kuasa terhadap pekabaran kebenaran yang tidak dapat diberikan oleh segala kuasa atau kemuliaan dunia – Alfa dan Omega, jilid 7, hlm 42,43

Perlengkapan Moral Kita

Perlengkapan Moral Kita

Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan akal budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna. (Roma 12:2)

Tindakan kita saat memilih adalah pekerjaan yang saling berhubungan dengan mekanisme pikiran, hal ini berhubungan dengan perlengkapan moral kita. Sama seperti mobil, televisi, atau jam tangan yang kita pakai memiliki mesin atau perangkat lunak yang menghubungkan nya dan menjadikan mekanisme pekerjaan itu saling berhubungan, Begitu juga dengan pilihan kita menuntun pada komponen moral yang sangat khusus. Tiga komponen utama yaitu hasrat kita (Galatia 5:16-17), pertimbangan kita (Yesaya 1:18), kehendak kita (Roma 7:18).

Dasar kesulitan kita adalah, saat kita lahir, semua unsur dalam diri kita bermasalah. Secara moral dikatakan, kita adalah “DOA” (dead on arrival) atau mati pada saat kita lahir/ada. Hasrat kita menyimpang, pertimbangan kita miring, kehendak kita lemah. Hanya ada satu solusi benar yang tersedia – kita harus membawa mesin kita yang rusak ini kepada Dia yang menciptakan kita, karena penyimpangan satu orang yaitu orang tua pertama kita; Seorang yang lain yaitu Yesus mengatakan: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu: (Matius 11:28). Hanya Dia sendiri yang dapat memperbaiki bagian-bagian kita yang rusak.

Bagaimanakah Dia melakukannya? Dia melakukannya melalui perantaraan Roh Kudus – secara khusus bekerja untuk menginsafkan seseorang. Dia membawa kita kepada Firman itu, dimana Dia mengerjakan bagian dari pekerjaan penebusan, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dia menyadarkan kita untuk disembuhkan, diubahkan, hidup dalam kuasa yang diberikan oleh Allah, dan kita diciptakan kembali sesuai dengan gambar-Nya. Perubahan itu tidak hanya melibatkan keinginan dasar kita untuk menurut, tetapi juga kemampuan kita untuk melaksanakannya – ini adalah untuk menghasilkan buah-buah dari pekerjaan kebenaran.

Tetapi perlengkapan moral hati kita tidak ditetapkan “sekali untuk selamanya.” Kita harus tetap mempersembahkannya secara terus-menerus kepada Allah untuk dijaga dan dipelihara-Nya. Kita harus “mati setiap hari” atau kita harus bertobat dari kelemahan kita. Itulah sebabnya, meskipin kita telah diubahkan atau meninggikan perasaan yang lebih mulia, selera kita, pertimbangan kita, dan kemauan tetap tinggal pada dagingn yang penuh dosa dan hanya dapat digunakan dengan tepat jika itu berada dibawa pengendalian Firman Tuhan. Itulah hubungan yang paling memuaskan dari segala sesuatu, pengalaman yang paling membahagiakan hati dari semua manusia dan satu-satunya cara untuk membuat keputusan yang tahan uji sampai pada kekekalan.

Inti Sari Kitab Suci

Inti Sari Kitab Suci

Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Ayub 19:25

Salah satu kebenaran yang paling khidmat, tetapi paling mulia yang dinyatakan dalam Alkitab ialah kedatangan Kristus yang kedua kali; untuk merampungkan pekerjaan besar penebusan. Umat Allah yang mengadakan perjalanan, telah lama dibiarkan mengembara di “negeri yang dinaungi maut,” suatu pengharapan yang berharga dan memberikan ilham yang menyenangkan telah dituangkan dalam bentuk perjanjian kedatangan-Nya, yang menjadi “kebangkitan dan hidup,” untuk “membawa kembali umat-Nya yang terbuang.” Ajaran tentang kedatangan yang kedua kali merupakan inti sari Kitab Suci. Sejak satt pasangan pertama melangkahkan kaki dengan sedih keluar dari Eden, maka anak-anak orang beriman sudah menunggu-nunggu kedatangan Oknum Perjanjian itu untuk menghancurkan kuasa si pembinasa dan membawa mereka kembali ke Firdaus yang hilang.

Henokh, yang hanyalah keturunan nomor tujuh dari mereka yang tinggal di Eden, yang berjalan dengan Allahnya di atas bumi selama tiga abad, telah diperkenankan memandang jauh lebih dulu akan dengan beribu-ribu orang kudus-Nya, hendak menghakimi semua orang.” Ayub sebagai bapa pada malam kesengsaraannya dengan kepercayaan yang tidak goyah berseru: “Aku tahu penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu: … tanpa dagingpun aku akan melihat Allah: yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku, mataku sendiri akan menyaksikan-Nya dan bukan orang lain.”

Kiranya Allah yang penuh kemurahan akan menerangi pengertianmu sehingga engkau boleh memahami perkara-perkara yang kekal, sehingga dengan terang kebenaran kesalahanmu yang amat banyak itu, dapat dibukakan kepadamu sebagaimana adanya, supaya engkau jauh, dan di dalam tempat kejahatan ini, buah yang pahit dapat mengeluarkan buah yang berharga untuk hidup kekal.

Persembahkanlah hatimu yang malang, sombong dan merasa benar sendiri di hadapan Allah; rendahkanlah diri dan serendah-rendahnya, hancurkan semua sifatm yang berdosa di kaki-Nya. Abdikan dirimu sendiri kepada pekerjaan persiapan. Janganlah berhenti sebelum engkau betul-betul dapat berkata: Penebusku hidup, dan sebab Ia hidup, maka akupun harus hidup.

Jika engkau kehilangan sorga, kau kehilangan segala-galanya; kalau kau memperoleh sorga kau memperoleh segala-galanya. Jangan melakukan kesalahan dalam hal ini, kumohon padamu dengan sangat. Keuntungan-keuntungan abadi tercakup disini.

Harapan Untuk Kedatangan Yang Kedua Kali

Harapan Untuk Kedatangan Yang Kedua Kali

Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: “Ya, Aku datang segera!” Amin, datanglah, Tuhan Yesus! Wahyu 22:20

Kedatangan Tuhan yang kedua kali telah menjadi pengharapan para pengikut-Nya yang benar sepanjang zaman. Janji Juruselamat waktu mengadakan perpisahan di atas bukit Zaitun, bahwa Ia akan datang kembali, menerangi masa depan murid-murid-Nya, mengisi hati mereka dengan kesukaan dan pengharapan yang tidak dapat dilunturkan oleh kesusahan atau dipadamkan oleh penderitaan. Di tengah-tengah penderitaan dan penganiayaan, “pernyataan kemuliaan Allah yang Maha Besar dan Juruselamat kita Yesus Kristus” adalah “pengharapan yang diberkati.” Ketika orang-orang Kristen di Tesalonika penuh dengan kesusahan manakala mereka menguburkan kekasih-kekasih mereka yang telah meninggal yan gberharap-harap dapat menyaksikan kedatangan Tuhan, Paulus guru mereka, menyatakan kepada mereka mengenai kebangkitan yang akan terjadi pada waktu Juruselamat datang. Maka orang-orang yang mati dalam Kristus akan bangkit, dan bersama-sama dengan yang masih hidup akan diangkat untuk bertemu dengan Tuhan di angkasa. “Demikianlah,” katanya, “kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini. 1 Tesalonika 4:16-18

Dari gua batu, tiang gantungan, tempat penyiksaan, di mana orang-orang saleh dan para martir bersaksi demi kebenaran, melalui berabad-abad terungkaplah iman dan pengharapan mereka. “Mendapat jaminan dari kebangkitan pribadi-Nya, dan atas kebangkitan mereka sendiri pada waktu kedatangan-Nya, maka untuk inilah,” kata salah satu dari orang-orang Kristen ini, “mereka tidak mempedulikan kematian, dan ternyata dapat mengatasinya.” – Daniel T. Taylor, dalam buku The Reign of Christ on Earth: atau The Voice of the Church in All Ages, hal. 33. Mereka itu rela turun ke kubur, supaya “Tuhan akan turun dari sorga dalam awan dengan kemuliaan Bapa-Nya, “membawa kepada orang-orang benar zaman kerjaan itu.” Orang-orang Waldensi memegang iman yang sama. Wycliffe mengharapkan kedatangan Juruselamat sebagai pengharapan gereja.

Di atas pulau Patmos yang berbatu-batu rasul yang kekasih itu mendengar janji, “Ya, Aku datang segera,” dan kerinduannya menyambut suara-suara sebagai doa gereja pada sepanjang perjalanan gereja itu, “Datanglah Tuhan Yesus.” Wahyu 22:20.

Kebiasaan Manusia

Kebiasaan Manusia

Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: ‘Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia dan bawalah Dia dengan selamat” (Markus 14:44)

Banyak yang berpikir bahwa memilih adalah kegiatan saat itu: bahwa kita memilih seperti yang kita jalani dan keputusan itu adalah respons terhadap dorongan yang diberikan atau keadaan yang sedang terjadi. Tetapi tidak demikian. Kita memilih sebagaimana kita telah memilih ribuan kali sebelumnya. Kita diciptakan dari pola yang sama, kebiasaan yang sama, dan dari instrumen yang sama. perasaan kita terbiasa dengan kesenangan. semua kecenderungan itu, bukan keputusan sesaat. setiap pilihan baik atau buruk adalah langkah untuk membuat perjalanan selanjutnya ke arah lebih mudah dan lebih baik. Kita memilih, bukan pada saat kita merespons, tetapi seperti yang telah dikondisikan oleh respons kita dari waktu ke waktu.

Ananias dan Safira tidak memilih untuk menahan milik Tuhan karena tiba-tiba ada dorongan untuk mementingkan diri sendiri. Keputusan mereka untuk menahan apa yang menjadi milik Tuhan telah dibentuk oleh tindakan ketamakan dan keserakahan yang berulang-ulang. Yusuf tidak memutuskan untuk hidup Suci atau Daniel tidak memprioritaskan doa berdasarkan kesetiaan palsu yang terjadi secara tiba-tiba. mereka selama bertahun-tahun, membangun pola hidup yang benar. dan Yudas tidak menghianati Tuhannya secara tiba-tiba. keputusannya yang fatal itu didorong, ditempa, dan ditetapkan selama bertahun-tahun, memilih yang dapat dilihat dengan mata belaka telah membentuk keinginan dan tindakannya melebihi apa yang ia dapat kendalikan. Begitu juga dengan kita semua. masa depan kita, pada umumnya, terletak pada kebiasaan kita.

Apakah anda memiliki kebiasaan yang sulit untuk Anda tinggalkan? Apakah hari ini, ini anda sementara berjuang dengan pola hidup atau pikiran jahat yang sulit untuk Anda tinggalkan? kabar baiknya adalah bahwa tidak Besar Ikatan kebiasaan yang mengikat kita dalam beberapa kebiasaan buruk yang tidak diinginkan, Yesus dapat membebaskan kita. dia tidak hanya pembuat cara, tetapi ia juga akan menghancurkan kebiasaan itu – dokter Agung yang siap untuk memotong kecenderungan kita untuk berbuat jahat serta mengendalikan pikiran dan keputusan kita.

Dengan keputusan yang tepat dan konsisten, kita pada akhirnya menjadi sangat terbiasa untuk mengambil keputusan secara benar, saat dicoba, berbalik secara alamiah datang kepada Allah untuk dituntun seperti bunga matahari yang selalu menghadap ke arah matahari. ini adalah janji yang penuh kuasa yang kita semua harus pilih untuk percaya, ya dan kebiasaan untuk percaya kepada Allah adalah yang paling penting dari segala yang lain.

Sesudah Yesus Dilahirkan

Sesudah Yesus Dilahirkan

Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” Matius 2:1,2

Raja kemuliaan merendahkan diri mengambil sifat manusia, dan malaikat yang telah menyaksikan kemuliaan-Nya yang luar biasa di dalam istana sorga, ketika Ia disembah oleh semua pasukan sorga, menjadi kecewa melihat Panglima ilahi mereka dalam kedudukan yang sangat hina.

Orang-orang Yahudi telah memisahkan diri mereka sendiri jauh sekali dari Allah dengan pekerjaan mereka yang jahat, sehingga para malaikat tidak dapat menyampaikan kepada mereka berita kedatangan bayi Penebus itu. Allah memilih orang majus dari Timur untuk melakukan kehendak-Nya.

Orang-orang majus ini telah melihat langit disinari dengan terang, yang menyelubungi pasukan sorga yang mengelu-elukan kedatangan Kristus kepada para gembala yang rendah derajatnya.

Terang ini adalah sekelompok malaikat yang bersinar-sinar di kejauhan, yang kelihatannya seperti bintang yang gemerlapan. Munculnya bintang besar yang terang-benderang yang menyimpang dari kebiasaan, yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, tergantung sebagai tanda di langit, menarik perhatian mereka. Orang majus itu mengarahkan perjalanan mereka ke mana bintang itu membawa mereka. Dan ketika mereka mendekati kota Yerusalem, bintang itu diselubungi oleh kegelapan, dan tidak lagi menuntun mereka. Mereka merasa bahwa tidak mungkin orang Yahudi tidak mengetahui akan peristiwa besar yaitu kedatangan Mesias, lalu mereka bertanya-tanya di sekitar Yerusalem.

Orang-orang majus itu terkejut melihat tidak ada perhatian luar biasa terhadap pokok pembicaraan tentang kedatangan Mesias. Mereka heran bahwa orang Yahudi tidak tertarik dan tidak bersuka-suka dalam menunggu-nunggu peristiwa yang besar ini yaitu kedatangan Kristus.

Gereja-gereja zaman kita sedang mencari kebesaran dunia, dan tidak berkeinginan melihat terang nubuatan-nubuatan dan menerima bukti-bukti kegenapannya yang menunjukkan bahwa Kristus segera akan datang, dan sama keadaannya dengan orang Yahudi pada kedatangan-Nya yang pertama kali. Mereka mengharapkan kekuasaan pemerintahan Mesias yang hanya bersifat duniawi di Yerusalem. Orang-orang yang mengaku Kristen pada zaman kita hanyalah mengharapkan kemakmuran gereja yang bersifat duniawi, berubah secara dunia, dan menyukai seribu tahun secara duniawi saja.

Raksasa Tetap Datang

Raksasa Tetap Datang

Lalu terjadi lagi pertempuran di Gat; dan di sana ada seorang yang tinggi perawakannya, yang tangannya dan kakinya masing-masing berjari enam: dua puluh empat seluruhnya; juga orang ini termasuk keturunan raksasa. 2 Samuel 21:20

Setiap hari masing-masing kita ditantang oleh raksasa pribadi kita – dorongan yang mengesankan dari dalam diri kita sendiri. Kita ada di dunia yang cenderung melakukan kejahatan, menyerukan untuk berbuar salah – cenderung mengutamakan sesuatu yang penuh dosa. Keadaan keinginan alamiah yang ada didalam diri kita terlihat dalam tindakan dan sikap dari setiap anak. Mementingkan diri, sombong, dan kecemburuan adalah warisan yang berlangsung tersu-menerus yang kita warisi dari Adam. Melawan kejahatan bawaan atau dendam hanya dapat dikalahkan oleh kuasa Roh Kudus. Itulah sebabnya mengapa tidak mungkin untuk memprioritaskan sesuatu cara benar tanpa tuntunan ilahi.

Mereka yang bukan kristen terkadang mampu mendapat keuntungan dari prioritas – pilihan yang memberikan hasil yang efektif. Tetapi kecuali motivasi mereka saat mengambil keputusan adalah karena iman, bahkan keputusan mereka yang baik sekalipun akan tidak menyenangkan Tuhan. Dietrich Bonhoeffer, seorang yang sangat baik dari German menjadi martir, menyebut prestasi yang baik tanpa motivasi khusus sebagai “kebaikan yang dicuri”; Agustine menyebutnya “kebetulan yang tepat”; dan Ellen menyatakan “panggung moralitas.” Semuanya mengingatkan kita bahwa hanya pencapaian yang baik dalam meresponse Firman Tuhan yang menyenangkan hati Tuhan.

Perjuangan Paulus setiap hari untuk menaklukkan keinginan daging pada dasarnya menjadi pelajaran yang baik bagi kita, Ellen menjelaskan: “Bahwa dia bukan berlari tanpa tujuan atau secara serampangan dalam perlombaan Kristen, Paulus menundukkan dirinya dalam latihan yang keras. Kata-kata itu berbunyi: Aku melatih tubuhku, arti yang sesungguhnya ialah mengalahkan hawa nafsu, keinginan hati bahkan disiplin yang kuat.

Semua pertimbangan kita setiap hari harus dimulai dengan menyerah kepada kehendak Allah. Hanya apabila kita mengingatkan diri kita kepada-Nya sebagai pokok anggur maka kita memiliki gizi dan kekuatan yang memadai untuk ujian pilihan setiap hari.

Daud, prajurit pemberani, membunuh bukan hanya raksasa Goliat, tetapi juga banyak raksasa lainnya. Adalah mungkin untuk mengatakan bahwa dalam peperangan melawan orang Filistin, raksasa tetap datang! Itu juga berlaku dalam kehidupan kita. Tetapi Kristus telah memberikan kita Roh Kudus, yang dengan kuasa-Nya kita dapat membunuh mereka. Dan jika semua kemenangan menjadi milik kita dalam pertempuran, itu karena kita bergantung pada kebijaksanaan dan kuasa-Nya, bukan pada diri sendiri.

Pelajaran Dari Betlehem

Pelajaran Dari Betlehem

Demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia. Ibrani 9:28

Pada waktu kedatangan Kristus yang pertama kali para imam dan penulis tentang Kota Kudus, kepada siapa sabda Allah telah dipercayakan, seharusnya mengerti tanda-tanda zaman dan memaklumkan kedatangan Kristus yang dijanjikan. Nubuatan Mikha menunjukkan tempat kelahiran-Nya, Daniel mencantumkan waktu kedatangan-Nya. Allah menyerahkan nubuatan-nubuatan ini kepada para pemimpin Yahudi; tidak ada maaf bagi mereka jika mereka tidak mengetahui dan mengumumkan kepada orang banyak bahwa kedatangan Mesias sudah dekat. Ketidaktahuan mereka merupakan akibat kelalaian yang berdosa.

Semua orang seharusnya sudah bersiap-siap dan menunggu-nunggu supaya mereka boleh berada di antara yang pertama meyambut Penebus dunia. Tetapi, amboi, di Betlehem dua orang yang mengadakan perjalanan dari bukit-bukit Nazaret sudah lelah menyusuri jalan sempit yang panjang menuju ke bagian timur kota, dengan tidak berhasil mencari tempat istirahat untuk menginap malam itu. Tidak ada pintu yang terbuka untuk menerima mereka. Di dalam sebuah gubuk hina yang disediakan untuk binatang, akhirnya mereka mendapat tempat bermalam, dan di sanalah Juruselamat dunia lahir.

Tidak ada bukti bahwa Kristus sudah ditunggu-tunggu, dan tidak ada persiapan untuk kedatangan Raja kehidupan. Dalam ketakjuban pesuruh sorga sudah hampir pulang ke sorga dengan membawa berita yang memalukan, ketika ia menemukan sekelompok gembala yang sedang menjaga ternak mereka pada malam hari, dan ketika mereka memandang ke langit yang penuh dengan bintang, sambil merenungkan nubuatan kedatangan Mesias ke bumi, dan merindukan kedatangan Penebus dunia. Mereka inilah suatu kumpulan orang yang bersedia menerima kabar dari sorga itu. Maka tiba-tiba malaikat Tuhan muncul, memaklumkan kabar baik mengenai kesukaan besar.

Oh, betapa suatu pelajaran yang indah cerita Betlehem yang ajaib ini! Betapa hal ini menegur ketidakpercayaan kita, kesombongan kita dan kesenangan diri. Betapa hal ini memberi kita amaran supaya berjaga-jaga, jangan dengan pelbagai kejahatan kita, sehingga kitapun gagal mengerti akan tanda-tanda zaman, dan dengan demikian tidak mengetahui hari kedatangan Tuhan kita.