Firman Allah Adalah Otoritas Tertinggi

Firman Allah Adalah Otoritas Tertinggi

“Tetapi jawab Samuel: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.” (1 Samuel 15:22)

Firman Allah adalah untuk dituruti tanpa pertanyaan; itu adalah otoritas tertinggi dalam hidup kita. Saul menyimpang dari firman Allah yang jelas, dan mencoba mendiamkan perasaan bersalahnya dengan meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa Allah akan menerima pengorbanannya dan mengabaikan ketidakpatuhannya. Ketika Samuel, nabi itu, datang menemuinya, Saul bertingkah seolah-olah dia memandang dirinya sendiri sebagai orang yang benar, dan berseru, “diberkatilah kiranya engkau oleh Tuhan, aku telah melasaknakan firman Allah.”

Tetapi bukti-bukti yang tidak dapat salah dari ketidakpatuhannya menyatakan bahwa tuntunan penurutannya adalah ringan adanya. Dan Samuel berkata, “kalau begitu apakah bunyi kambing domba, yang sampai ketelingaku, dan bunyi lembu-lembu yang kudengar itu itu?” Jawab Saul, “Semuanya itu dibawa daripada orang Amalek, sebab rakyat menyelamatkan kaming domba dan lembu terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu.” Tetapi jawab Samuel, “Apakah Tuhan itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara Tuhan? sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik daripada lemak domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa petenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak firman TUHAN, maka Dia telah menolak engkau sebagai raja…”

Firman Allah adalah otoritas tertinggi. Tuhan berkata, “Perjanjian-Ku tidak akan Aku batalkan, demikian juga yang keluar dari bibir-Ku kita akan berubah!” Allah tidak dapat mengubah sedikit pun dari hukum-Nya tanpa mengurangi otoritasnya. Manusia tidak dapat membengkokkan hukum Allah untuk disesuaikan dengan ide-ide mereka, dan, gagal menjadikannya serasi dengan diri mereka, mereka melanggar perintah dan aturan-aturannya. Semua sudah terlambat, dunia ini akan belajar bahwa mereka tidak dapat menghakimi firman Allah, tetapi firman Allah akan menghakimi mereka. Akankah setiap orang….menyadari betapa bodoh dan betapa jahatnya berhadapan dengan Tuhan! Mereka yang melawan kehendak Allah pasti akan mengetahui bahwa dengan berbuat demikian mereka telah meninggalkan jalan satu-satunya yang menuntun kepada kesucian, kebahagiaan dan Surga.-Signs of the Times, 9 Januari 1896.

Doa-Doa Seorang Wanita Yang Setia Dijawab

Doa-Doa Seorang Wanita Yang Setia Dijawab

Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta daripada-Nya.” (1 Samuel 1:27)

Elkana, seorang Lewi dari Bukit Efraim, adalah seorang yang kaya dan berpengaruh, dan seorang yang mengasihi dan takut akan Allah. Istrinya, Hana, adalah seorang yang beribadat dengan sungguh-sungguh. Lemah-Lembut dan tidak sombong, tabiatnya ditandai oleh kesungguh-sungguhan yang dalam dan iman yang teguh.

Berkat yang dengan sungguh-sunguh dicari oleh setiap orang israel tidak diberikan kepada pasangan yang beribadat ini, rumah tangga mereka tidak digembirakan oleh suara anak-anak; dan keinginan untuk mengabdikan namanya memimpin suami itu-sebagaimana itu telah memimpin banyak orang lainnya-melakukan perkawinan yang kedua. Tetapi langkah ini, yang didorong oleh karena kurang iman dalam Allah, tidak memberikan kebahagiaan. Anak-anak lelaki dan perempuan ditambahkan ke dalam rumah tangga; tetapi kesukaan dan keindahan lembaga Allah yang suci itu telah dinodai, dan suasana damai di dalam keluarga telah dirusak. Penina, istri yang baru itu, cemburu dan berpikiran sempit, dan ia adalah seorang yang sombong dan tidak tahu malu. Kepada Hana, harapan kelihatannya telah musnah, dan kehidupan terasa sebagai suatu beban yang menjemukan; namun demikian ia menghadapi ujian itu dengan rendah hati dan tidak bersungut….

Beban yang ia tidak dapat bagikan kepada sahabat di dunia ini, ia serahkan kepada Allah. Dengan sungguh-sungguh dia memohon agar ia mau mengangkat kehinaannya itu, dan memberikan kepadanya satu karunia yang indah berupa seorang anak lelaki untuk dipelihara dan didik bagi Dia. Dan dia mengadakan satu janji yang khidmat bahwa jikalau permohonan nya itu dikabulkan, dia akan menyerahkan anaknya itu kepada Allah, sejak dari lahirnya….

Doa hana dikabulkan; ia menerima pemberian yang untuknya ia telah berdoa dengan sungguh-sungguh. Apabila ia melahirkan anak itu, ia menamai dia Samuel-”Aku telah memintanya daripada TUHAN.” Segera setelah anak itu cukup besar untuk berpisah dari ibunya, ia menggenapi janjinya….

Dari Silo, dengan diam-diam Hana telah kembali ke rumahnya di Rama, meninggalkan anaknya Samuel untuk dilatih bagi pekerjaan di rumah Tuhan, di bawah petunjuk imam besar. Sejak anak itu mulai berpikir, ia telah mengajar anaknya mengasihi dan menghormati Allah, dan menganggap dirinya sebagai milik Allah. Melalui segala sesuatu yang biasa yang ada di sekelilingnya, ia telah berusaha mengarahkan pikirannya kepada Khalik itu. Bilamana terpisah dari anaknya, dengan setia doa ibu itu tidak henti-hentinya dilayangkan….Ia tidak meminta kebesaran duniawi bagi anaknya itu, tetapi dengan sunggguh-sungguh dia memohon agar ia dapat mencapai kebesaran yang dinilai oleh Surga, agar ia dapat menghormati Allah, dan menjadi berkat bagi sesama manusia.

Memandang Pada Yesus Dalam Doa

Memandang Pada Yesus Dalam Doa

Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan. (Yohanes 3:14)

Dari tengah-tengah perkemahan orang israel terdapat penderitaan dan kematian dari mereka yang menderita luka sengatan ular yang mematikan. Tetapi Yesus berbicara dari dalam tiang awan, dan memberi petunjuk dari mana mereka bisa disembuhkan. Janji telah disampaikan bahwa siapa saja yang memandang kepada ular tembaga hidup; dan mereka yang memandang pada janji tersebut telah terbukti. Tetapi jika seseorang berkata: ”Kebaikan apa yang akan dibuat oleh memandang? Saya sudah pasti akan mati oleh sengatan ular yang mematikan. ”Jika mereka terus membicarakan luka mereka yang mematikan dan menyerukan bahwa masalah mereka tidak ada harapan, dan tidak berbuat penurutan yang sederhana [memandang], mereka akan mati.” Tetapi mereka yang memandang, akan hidup….

Kita diajak untuk memandang pada Dokter Agung. ”Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” Selama kita memandang pada dosa kita, dan membicarakannya dan menyesali keadaan kita yang malang, luka-luka kita yang membusuk tidak akan sembuh. Tetapi ketika kita mengalihkan pandangan dari diri kita kepada juruselamat yang ditinggikan, jiwa kita menemukan harapan dan kedamaian. Firman tuhan berkata, memerintahkan kepada kita, ”Pandanglah dan hidup.” ”Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Diallah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Barangsiapa percaya kepada anak, ia beroleh hidup yang kekal .”

Ada alasannya mengapa kita harus didorong untuk berharap bagi keselamatan jiwa kita. Dalam yesus setiap persediaan [persyaratan] untuk keselamatan kita telah dibuat. Tidak peduli bagaimana kelemahan dan dosa kita, ada tersedia suatu sumber mata air dari rumah Daud untuk orang-orang najis yang berdosa. ”Marilah, baiklah kita berperkara!-firman TUHAN-Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kezumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” Inilah firman Allah. Akankah kita menerimanya? Akankah kita percaya pada-Nya?

Doa Menuntun Kepada Pembaruan

Doa Menuntun Kepada Pembaruan

…dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalan-Nya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari surga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka. (2 Tawarikh 7:14)

Di dalam doa yang bersifat nubuatan yang dipersembahkan pada waktu bait suci ditahbiskan yang kini upacara-upacaranya sedang dipulihkan oleh Hiskia dan rekan-rekannya, Salomo telah berdoa, ”Apabila umat-Mu israel terpukul kalah oleh musuhnya karena mereka berdosa kepada-Mu, kemudian mereka berbalik kepada-Mu dan mengakui nama-Mu, dan mereka berdoa dan memohon kepada-Mu di rumah ini, maka Engkau pun kiranya mendengarkannya di Surga dan mengampuni dosa umat-Mu israel. ”1 Raja-raja 8:33,34.

Materai persetujuan ilahi tercantum di dalam doa ini; sebab pada akhir doa itu api telah turun dari langit untuk membakar persembahan dan korban-korban bakaran, dan kemuliaan Tuhan memenuhi bait suci itu. Lihat 2 Tawarikh 7:1. Pada waktu Tuhan menampakkan dari pada Salomo untuk mengatakan bahwa doanya sudah didengar, dan bahwa belas kasihan akan diberikan kepada mereka yang berbakti di sana….

Sudah bertahun-tahun lamanya Paskah tidak dirayakan sebagai pesta nasional. Terbaginya kerajaan itu sesudah berakhirnya pemerintahan Salomo telah menyebabkan hal ini tampaknya tidak dapat dijalankan. Tetapi hukuman mengerikan yang menimpa sepuluh suku itu menggerakkan hati beberapa orang yang menginginkan perkara-perkara yang lebih baik; dan pekabaran para nabi yang menggerakkan hati itu menunjukkan hasil-hasilnya….Yang keras kepala dengan mudah berbalik, tentunya mereka mempunyai kerinduan mencari Allah untuk memperoleh pengetahuan yang lebih jelas akan kehendak-Nya, ”merendahkan diri dan datang ke Yerusalem.”[2 Tawarikh 30:10, 11]-Patriarchs and Prophet, hlm. 335, 337.

Bagi israel yang menderita cuma satu obatnya-berbalik dari dosa-dosa yang telah mendatangkan hukuman Allah keatas mereka, dan dengan sepenuh hatinya berbalik kepada Allah. jaminan telah diberikan kepada mereka, ”bilamana Aku menutup langit, sehingga tidak ada hujan, dan bilamana Aku menyuruh belalang memakan habis hasil bumi, dan bilamana Aku melepaskan penyakit sampar diantara umat-Ku, dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari Surga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” 2 tawarikh 7:13, 14. Adalah untuk mengingat hasil yang diberkati pada masa yang lalu sehingga Allah tetap menahan dari mereka hujan dan embun sampai pembaruan yang ditentukan terlaksana.

Mengatasi Kebiasaan Buruk

Mengatasi Kebiasaan Buruk

Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:13)

Warisan kecenderungan untuk berbuat dosa tidak hanya menghalangi kita untuk membuat pilihan tepat; kita juga menjadi sakit karena kencenderungan dosa yang kita miliki – kebiasaan buruk kita bertambah setelah dibuahi. Kecenderungan ini dikembangkan untuk hal yang tidak baik (kemalasan, keterlambatan, pelupa, dll.) berbeda dengan warisan yang baik yaitu membebaskan mereka, tidak hanya sekedar menolak, tetapi benar-benar dihapusnya – diberantas sama sekali!

Disisi lain, tuntutan bawaan secara daging saat kita dilahirkan (mementingkan diri sendiri, kesombongan, keserakahan, dll.) tidak dapat dilepas. Hal itu bisa dan harus ditundukkan, namun, sebagai penghalan yaitu keadaan dari sifat daging yang tidak murni, tidak dapat diberantas. Ini harus terus-menerus kita lawan, hal ini selalu hadir (bahkan jika terhenti) mendesak seperti yang digambarkan dalam kata-kata sang nabi: “Selama Setan memerintah, kita akan mempunya diri sendiri untuk ditaklukkan, dosa-dosa yang menyerang untuk diatasi; selama hidup itu akan bertahan, tidak akan ada tempat berhenti, tidak ada tempat yang dapat kita capai dan mengatakan, saya telah memperoleh dengan sepenuhnya. Penyucian adalah akibat penurutan seumur hidup”. Ellen White menyatakan bahwa: “Pada setiap tahapan perkembangan hidup kita bisa sempurna; namun jika maksud Allah dipenuhi bagi kita, akan ada kemajuan yang tetap. Penyucian adalah pekerjaan seumur hidup. Manakala kesempatan-kesempatan kita bertambah banyak, pengalaman kita semakin luas dan pengetahuan kita bertambah. Kita akan menjadi kuat untuk memikul tanggungjawab dan kedewasaan kita akan sebanding dengan kesempatan-kesempatan kita”

Sudahkah Surga menyediakan bantuan kepada kita untuk mengatasinya secara terus-menerus? Tuntuna Roh Kudus (Yohanes 16:13); diterangi oleh Kitab Suci (Mazmur 119:11); pengaruh yang menyegarkan dari kesaksian pribadi (Wahyu 12:13); serta kekuatan doa dan puasa (Matius 17:21).

Hal ini bukan berarti bahwa kita sudah pasti mampi mencapai kerajaan surga. Kita tidak mampu. Tetapi, “Kristus melihat kerinduan terbesar kita, dan ketika Dia melihat kita membawa beban kita dengan iman, kekudusan-Nya yang sempurna menebus kekurangan kita. Ketika kita melakukan yang terbaik, Dia menjadi kebenaran kita, dan “itu adalah kebenaran dan kesempurnaan Anak-Nya, yang mengambil atas diri-Nya sendiri dosa-dosa kita, kecacatan kita, kelemahan kita, jika kita mempertahankan hubungan yang baik bersama-Nya”

Berdoa Dengan Dia Secara Terus Menerus

Berdoa Dengan Dia Secara Terus Menerus

Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari TUHAN! Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! (1 Tawarikh 16:10-11)

Doa tidak dimengerti sebagai mana mestinya, Doa kita bukanlah memberitahukan sesuatu kepada Allah tentang apa yang belum diketahui-Nya. Tuhan mengetahui segala rahasia tiap-tiap jiwa, Doa kita tidak perlu panjang panjang atau diucapkan dengan nyaring, Allah membaca segala pikiran yang tersembunyi. Kita boleh berdoa dalam tempat yang tersembunyi itu, Dia akan mendengar dan membalas kepada kita dengan nyata-nyata.

Segala doa yang dipersembahkan kepada Allah untuk memberitahukan segala kesusahan kita, tetapi kita sendiri tidak merasa susah sedikitpun, doa yang demikian adalah doa yang munafik. Doa yang disertai dengan penyesalan itulah yang diterima Tuhan ‘’Sebab beginilah firman yang Mahatinggi dan Yang MahaMulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: ‘Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk‘’ Yesaya 57:15.

Maksud doa itu bukanlah untuk mengadakan suatu perubahan di pihak Allah; doa membawa kita di dalam persesuaian dengan Allah. Doa tidak menggantikan kewajiban Betapa pun banyaknya doa dilayangkan dan betapa sungguh-sungguh sekalipun doa itu, tidak pernah akan diterima oleh Allah sebagai pengganti perpuluhan kita. Doa tidak akan membayar utang kita kepada Allah.

Kekuatan yang kita peroleh dalam doa kepada Allah akan mempersiapkan kita menghadapi pekerjaan kita tiap hari. Doa itu menjadi sangat penting bagi kita yang menghadapi pencobaan setiap hari, Agar supaya kita selalu terpelihara oleh kuasa Allah melalui iman, maka segala kerinduan hati kita haruslah selalu dinaikkan kepada Tuhan dengan doa yang diam-diam.

Ketika kita dikelilingi oleh pengaruh-pengaruh yang hendak menyesatkan kita dari Allah, doa kita memohon pertolongan dan kekuatan haruslah dilayangkan dengan tidak berkeputusan. Tanpa berbuat demikian, kita tidak akan pernah berhasil menghancurkan perasaan kesombongan dan mengalahkan kuasa pencobaan terhadap pemanjaan dosa, yang menjauhkan kita dari juruselamat. Terang kebenaran yang menyucikan kehidupan, akan menyatakan kepada orang yang menerimanya segala nafsu dosa yang ada didalam hatinya, yang bergumul untuk mendapat kemenangan Harus merentangkan segala urat sarafnya dan mengerahkan segala kekuatannya untuk melawan setan, supaya ia bisa menang melalui jasa-jasa Kristus – Amanat kepada orang muda, hlm 229, 230

Memohon Kebijaksanaan Dan Kuasa

Memohon Kebijaksanaan Dan Kuasa

Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah? (Mazmur 42:2-3)

Mereka yang pada hari pentakosta dipenuhi dengan kuasa dari atas, tidak dibebaskan dari penggodaan dan pergumulan selanjutnya, sedang mereka bersaksi untuk kebenaran mereka berulang kali diserbu oleh musuh segala kebenaran, yang berusaha merampok pengalaman Kristen mereka. Mereka dipaksa bergumul dengan kuasa yang dikaruniakan oleh Allah, untuk mencapai ukuran kedewasaan pria dan wanita didalam Kristus Yesus. Setiap hari mereka berdoa untuk persediaan rahmat, supaya mereka boleh mencapai lebih tinggi dan tetap lebih tinggi kepada kesempatan kesempurnaan Ilahi.

Di bawah pekerjaan Roh kudus, yang terlemah sekalipun, dengan melatih iman kepada Allah. Sebagaimana dalam kerendahan hati mereka menyerahkan diri kepada pengaruh yang membentuk dari Roh Kudus, mereka memperbolehkan kepenuhan Allah dan dibentuk menurut rupa Ilahi.

Berlalunya waktu tidak membuat perubahan janji perpisahan kristus untuk mengirim Roh Kudus, sebagai wakil-Nya. Bukannya karena suatu pembatasan di pihak Allah sehingga kekayaan anugerah tidak mengalir ke dunia kepada manusia. Kalau kegenapan nubuatan tidak kelihatan sebagaimana adanya, hal itu disebabkan karena janji tidak dihargai sebagaimana mestinya. Kalau semua orang rela, semua akan dipenuhi Roh. Di mana pun kebutuhan kebutuhan Roh Kudus merupakan suatu masalah yang diremehkan, di sana akan terlihat kekurangan rohani, kegelapan rohani, kemunduran dan kematian rohani.

Bila perkara kecil menguasai perhatian, kuasa ilahi yang perlu bagi pertumbuhan dan kemakmuran sidang, dan yang akan mengeluarkan segala berkat yang lain dalam usahanya, meskipun berkekurangan akan menerima kelimpahan yang tak terbatas. Rombongan pekerja-pekerja Kristen haruslah berkumpul untuk minta pertolongan istimewa, untuk hikmat Surga, agar mereka dapat mengetahui bagaimana merencanakan dan melaksanakannya dengan bijaksana, terutama mereka harus berdoa supaya Allah membaptiskan duta-duta pilihan-Nya di ladang Tuhan dengan suatu ukuran kekayaan akan Roh kudus bersama pekerja-pekerja Allah akan memberikan suatu kuasa terhadap pekabaran kebenaran yang tidak dapat diberikan oleh segala kuasa atau kemuliaan dunia – Alfa dan Omega, jilid 7, hlm 42,43

Perlengkapan Moral Kita

Perlengkapan Moral Kita

Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan akal budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna. (Roma 12:2)

Tindakan kita saat memilih adalah pekerjaan yang saling berhubungan dengan mekanisme pikiran, hal ini berhubungan dengan perlengkapan moral kita. Sama seperti mobil, televisi, atau jam tangan yang kita pakai memiliki mesin atau perangkat lunak yang menghubungkan nya dan menjadikan mekanisme pekerjaan itu saling berhubungan, Begitu juga dengan pilihan kita menuntun pada komponen moral yang sangat khusus. Tiga komponen utama yaitu hasrat kita (Galatia 5:16-17), pertimbangan kita (Yesaya 1:18), kehendak kita (Roma 7:18).

Dasar kesulitan kita adalah, saat kita lahir, semua unsur dalam diri kita bermasalah. Secara moral dikatakan, kita adalah “DOA” (dead on arrival) atau mati pada saat kita lahir/ada. Hasrat kita menyimpang, pertimbangan kita miring, kehendak kita lemah. Hanya ada satu solusi benar yang tersedia – kita harus membawa mesin kita yang rusak ini kepada Dia yang menciptakan kita, karena penyimpangan satu orang yaitu orang tua pertama kita; Seorang yang lain yaitu Yesus mengatakan: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu: (Matius 11:28). Hanya Dia sendiri yang dapat memperbaiki bagian-bagian kita yang rusak.

Bagaimanakah Dia melakukannya? Dia melakukannya melalui perantaraan Roh Kudus – secara khusus bekerja untuk menginsafkan seseorang. Dia membawa kita kepada Firman itu, dimana Dia mengerjakan bagian dari pekerjaan penebusan, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dia menyadarkan kita untuk disembuhkan, diubahkan, hidup dalam kuasa yang diberikan oleh Allah, dan kita diciptakan kembali sesuai dengan gambar-Nya. Perubahan itu tidak hanya melibatkan keinginan dasar kita untuk menurut, tetapi juga kemampuan kita untuk melaksanakannya – ini adalah untuk menghasilkan buah-buah dari pekerjaan kebenaran.

Tetapi perlengkapan moral hati kita tidak ditetapkan “sekali untuk selamanya.” Kita harus tetap mempersembahkannya secara terus-menerus kepada Allah untuk dijaga dan dipelihara-Nya. Kita harus “mati setiap hari” atau kita harus bertobat dari kelemahan kita. Itulah sebabnya, meskipin kita telah diubahkan atau meninggikan perasaan yang lebih mulia, selera kita, pertimbangan kita, dan kemauan tetap tinggal pada dagingn yang penuh dosa dan hanya dapat digunakan dengan tepat jika itu berada dibawa pengendalian Firman Tuhan. Itulah hubungan yang paling memuaskan dari segala sesuatu, pengalaman yang paling membahagiakan hati dari semua manusia dan satu-satunya cara untuk membuat keputusan yang tahan uji sampai pada kekekalan.

Inti Sari Kitab Suci

Inti Sari Kitab Suci

Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Ayub 19:25

Salah satu kebenaran yang paling khidmat, tetapi paling mulia yang dinyatakan dalam Alkitab ialah kedatangan Kristus yang kedua kali; untuk merampungkan pekerjaan besar penebusan. Umat Allah yang mengadakan perjalanan, telah lama dibiarkan mengembara di “negeri yang dinaungi maut,” suatu pengharapan yang berharga dan memberikan ilham yang menyenangkan telah dituangkan dalam bentuk perjanjian kedatangan-Nya, yang menjadi “kebangkitan dan hidup,” untuk “membawa kembali umat-Nya yang terbuang.” Ajaran tentang kedatangan yang kedua kali merupakan inti sari Kitab Suci. Sejak satt pasangan pertama melangkahkan kaki dengan sedih keluar dari Eden, maka anak-anak orang beriman sudah menunggu-nunggu kedatangan Oknum Perjanjian itu untuk menghancurkan kuasa si pembinasa dan membawa mereka kembali ke Firdaus yang hilang.

Henokh, yang hanyalah keturunan nomor tujuh dari mereka yang tinggal di Eden, yang berjalan dengan Allahnya di atas bumi selama tiga abad, telah diperkenankan memandang jauh lebih dulu akan dengan beribu-ribu orang kudus-Nya, hendak menghakimi semua orang.” Ayub sebagai bapa pada malam kesengsaraannya dengan kepercayaan yang tidak goyah berseru: “Aku tahu penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu: … tanpa dagingpun aku akan melihat Allah: yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku, mataku sendiri akan menyaksikan-Nya dan bukan orang lain.”

Kiranya Allah yang penuh kemurahan akan menerangi pengertianmu sehingga engkau boleh memahami perkara-perkara yang kekal, sehingga dengan terang kebenaran kesalahanmu yang amat banyak itu, dapat dibukakan kepadamu sebagaimana adanya, supaya engkau jauh, dan di dalam tempat kejahatan ini, buah yang pahit dapat mengeluarkan buah yang berharga untuk hidup kekal.

Persembahkanlah hatimu yang malang, sombong dan merasa benar sendiri di hadapan Allah; rendahkanlah diri dan serendah-rendahnya, hancurkan semua sifatm yang berdosa di kaki-Nya. Abdikan dirimu sendiri kepada pekerjaan persiapan. Janganlah berhenti sebelum engkau betul-betul dapat berkata: Penebusku hidup, dan sebab Ia hidup, maka akupun harus hidup.

Jika engkau kehilangan sorga, kau kehilangan segala-galanya; kalau kau memperoleh sorga kau memperoleh segala-galanya. Jangan melakukan kesalahan dalam hal ini, kumohon padamu dengan sangat. Keuntungan-keuntungan abadi tercakup disini.

Harapan Untuk Kedatangan Yang Kedua Kali

Harapan Untuk Kedatangan Yang Kedua Kali

Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: “Ya, Aku datang segera!” Amin, datanglah, Tuhan Yesus! Wahyu 22:20

Kedatangan Tuhan yang kedua kali telah menjadi pengharapan para pengikut-Nya yang benar sepanjang zaman. Janji Juruselamat waktu mengadakan perpisahan di atas bukit Zaitun, bahwa Ia akan datang kembali, menerangi masa depan murid-murid-Nya, mengisi hati mereka dengan kesukaan dan pengharapan yang tidak dapat dilunturkan oleh kesusahan atau dipadamkan oleh penderitaan. Di tengah-tengah penderitaan dan penganiayaan, “pernyataan kemuliaan Allah yang Maha Besar dan Juruselamat kita Yesus Kristus” adalah “pengharapan yang diberkati.” Ketika orang-orang Kristen di Tesalonika penuh dengan kesusahan manakala mereka menguburkan kekasih-kekasih mereka yang telah meninggal yan gberharap-harap dapat menyaksikan kedatangan Tuhan, Paulus guru mereka, menyatakan kepada mereka mengenai kebangkitan yang akan terjadi pada waktu Juruselamat datang. Maka orang-orang yang mati dalam Kristus akan bangkit, dan bersama-sama dengan yang masih hidup akan diangkat untuk bertemu dengan Tuhan di angkasa. “Demikianlah,” katanya, “kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini. 1 Tesalonika 4:16-18

Dari gua batu, tiang gantungan, tempat penyiksaan, di mana orang-orang saleh dan para martir bersaksi demi kebenaran, melalui berabad-abad terungkaplah iman dan pengharapan mereka. “Mendapat jaminan dari kebangkitan pribadi-Nya, dan atas kebangkitan mereka sendiri pada waktu kedatangan-Nya, maka untuk inilah,” kata salah satu dari orang-orang Kristen ini, “mereka tidak mempedulikan kematian, dan ternyata dapat mengatasinya.” – Daniel T. Taylor, dalam buku The Reign of Christ on Earth: atau The Voice of the Church in All Ages, hal. 33. Mereka itu rela turun ke kubur, supaya “Tuhan akan turun dari sorga dalam awan dengan kemuliaan Bapa-Nya, “membawa kepada orang-orang benar zaman kerjaan itu.” Orang-orang Waldensi memegang iman yang sama. Wycliffe mengharapkan kedatangan Juruselamat sebagai pengharapan gereja.

Di atas pulau Patmos yang berbatu-batu rasul yang kekasih itu mendengar janji, “Ya, Aku datang segera,” dan kerinduannya menyambut suara-suara sebagai doa gereja pada sepanjang perjalanan gereja itu, “Datanglah Tuhan Yesus.” Wahyu 22:20.