đź“– Bacaan Alkitab Hari Ini:
Genesis 41:8; Keluaran 7:11–12; Matius 2:1–6
đź‘‘ Raja-Raja yang Mencari Jawaban
Di sepanjang sejarah Perjanjian Lama, para raja kafir—meski sering membuat keputusan bodoh—tetap mencari hikmat ketika mereka sadar bahwa kekuatan dan logika mereka tidak cukup. Saat Firaun mengalami mimpi yang membingungkan, dia memanggil para ahli nujumnya (Kejadian 41:8). Ketika Musa menunjukkan mujizat dari Tuhan, raja Mesir menanggapi dengan memanggil tukang sihir dan ahli sihir (Keluaran 7:11).
Ratusan tahun kemudian, ketika para majus dari Timur datang mencari “Raja orang Yahudi” (Mat. 2:1–2), Herodes yang panik segera memanggil imam-imam kepala dan ahli Taurat (Mat. 2:4). Mengapa? Karena meskipun dia seorang raja, dia tidak punya jawaban sendiri.
Ini menunjukkan satu fakta penting: kekuasaan tanpa hikmat hanyalah kekosongan.
📊 Statistik & Realita: Orang Cerdas pun Bisa Bodoh
Data dari Journal of Behavioral Decision Making menunjukkan:
- Orang dengan IQ tinggi cenderung lebih percaya diri dengan keputusannya, tetapi lebih rentan terhadap bias konfirmasi — mereka mencari informasi yang menguatkan pendapat mereka, bukan kebenaran objektif.
- 63% pemimpin perusahaan mengaku pernah mengambil keputusan besar tanpa cukup data atau refleksi mendalam, hanya berdasarkan “insting”.
- Dalam studi psikologis, kekuasaan cenderung menurunkan empati dan mengganggu penilaian moral.
Seperti para raja kuno, manusia modern pun bisa cerdas secara duniawi tetapi bodoh secara rohani. Hikmat sejati bukan soal gelar atau kekuasaan, tetapi soal hati yang takut akan Tuhan (Amsal 9:10).
🔍 Apa yang Membuat Hikmat Sejati Berbeda?
- Hikmat dunia hanya mencari solusi, tapi hikmat Tuhan memimpin kepada pertobatan.
Para raja Mesir mencari tafsir mimpi, tapi menolak tunduk pada Allah. Herodes mencari informasi, tapi bukan untuk menyembah Yesus — melainkan untuk membunuh-Nya. - Hikmat dunia datang dari kekuasaan, tapi hikmat Tuhan berasal dari kerendahan hati.
Yusuf, Musa, bahkan para majus — semua datang dari posisi rendah, tetapi dipakai Tuhan untuk menyampaikan kebenaran. - Hikmat dunia bisa disalahgunakan, tapi hikmat dari Tuhan membawa hidup.
Amsal 3:18 menyebut hikmat ilahi sebagai “pohon kehidupan bagi yang memegangnya.”
🎯 Refleksi: Siapa yang Kamu Tanyakan Hari Ini?
- Apakah kita lebih sering bertanya pada “ahli” dunia—Google, media sosial, opini mayoritas—ketimbang bertanya kepada Tuhan?
- Apakah kita mengandalkan gelar, logika, dan pengalaman… atau kita bersedia duduk diam dan mencari petunjuk dari Firman dan doa?
Jika para raja kafir saja bisa merasa perlu mencari jawaban rohani, betapa lebih lagi kita, umat Allah, seharusnya menjadi orang-orang yang rendah hati untuk mencari hikmat dari sumber yang benar.
📌 Yang Harus Dilakukan Hari Ini
- Evaluasi sumber hikmatmu: Ketika bingung, ke mana kamu pertama kali mencari jawaban?
- Latih ketajaman rohani, bukan hanya nalar: Baca Amsal. Renungkan. Berdoalah untuk pengertian, bukan hanya informasi.
- Tanya ini di setiap keputusan: Apakah ini menyenangkan Tuhan, atau hanya menyenangkan diriku?
đź“– Ayat untuk Diingat
“Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”
— Amsal 9:10
✨ Hikmat Hari Ini
Bukan seberapa kuat atau cerdas kamu yang menentukan langkahmu, tapi kepada siapa kamu bertanya.
Dunia menawarkan banyak suara, tetapi hanya satu yang membawa kebenaran kekal: Suara Tuhan.