Roma 12:17–21 — “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang.”
😤 Ketika Luka Itu Terasa Nyata
Rasa ingin membalas adalah naluri manusia. Saat seseorang menyakiti kita, merendahkan kita, atau menghancurkan sesuatu yang penting dalam hidup kita — dendam terasa wajar.
Faktanya, menurut penelitian dari American Psychological Association:
- 60% orang dewasa mengakui pernah menyimpan dendam dalam waktu yang lama.
- 1 dari 5 orang mengatakan bahwa mereka masih berharap bisa membalas seseorang dari masa lalu mereka.
- Menyimpan dendam dikaitkan dengan peningkatan tekanan darah, gangguan tidur, dan bahkan risiko penyakit jantung.
Namun… Apakah ini cara yang Tuhan kehendaki?
📖 Pandangan Alkitab: Kasih di Tengah Luka
Tuhan tahu luka kita, tapi Ia juga tahu apa yang terjadi jika kita menaruh balas dendam dalam hati. Karena itulah Roma 12:19 menulis dengan tegas:
“Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah…”
Dalam dunia yang terus mengajarkan bahwa kita harus “membalas dengan setimpal,” Firman Tuhan justru mengajar yang sebaliknya:
- Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan.
- Kalahkan kejahatan dengan kebaikan.
- Beri makan musuhmu jika ia lapar.
Ini bukan tanda kelemahan. Justru, ini adalah kekuatan rohani tertinggi — karena hanya hati yang sudah disembuhkan oleh kasih Tuhan yang mampu merespon dengan kasih, bukan kebencian.
⚠️ Risiko Membalas Kejahatan dengan Kejahatan
Penelitian lain dari Harvard School of Public Health menyimpulkan bahwa:
- Orang yang sering menyimpan dendam lebih rentan mengalami depresi dan kecemasan kronis.
- Dendam menyebabkan otak terus memutar ulang kejadian menyakitkan, menciptakan lingkaran rasa sakit emosional yang tidak kunjung usai.
- Ironisnya, membalas dendam tidak memberikan rasa puas yang bertahan lama — yang muncul justru perasaan kosong dan penyesalan.
✝️ Mengapa Tuhan Minta Kita Melepaskan Dendam?
- Karena pengampunan menyembuhkan kita.
Yesus mengampuni dari salib. Ia bisa membalas, tetapi Ia memilih kasih. Jika kita mengaku mengikut Kristus, kita dipanggil untuk meneladani-Nya (Efesus 4:32). - Karena Tuhan adalah Hakim yang adil.
Ketika kita menyerahkan luka kita pada Tuhan, kita tidak mengabaikan keadilan — kita justru mempercayakan keadilan kepada yang Mahatahu (Roma 12:19). - Karena kasih lebih kuat dari kebencian.
Hanya kasih yang bisa menghentikan siklus kejahatan. Membalas hanya membuat kita bagian dari rantai luka yang tak berakhir.
📌 Yang Harus Dilakukan Hari Ini
- Evaluasi hatimu: Adakah luka yang masih kamu simpan? Adakah nama seseorang yang, ketika disebut, membuatmu panas hati?
- Berdoa dan libatkan Tuhan: Minta kekuatan untuk melepaskan, bukan karena mereka layak, tapi karena kamu ingin bebas.
- Buat keputusan aktif untuk tidak membalas: Mungkin lewat diam, mungkin lewat berbuat baik, atau sekadar dengan tidak ikut menyebar kebencian.
- Cari komunitas pendukung: Jangan hadapi luka sendiri. Tuhan sering memakai orang-orang di sekitar kita untuk membantu proses pemulihan.
📖 Bacaan Tambahan:
- Matius 5:44 — “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”
- Amsal 20:22 — “Janganlah engkau berkata: Aku akan membalas kejahatan! Nantikanlah TUHAN, maka Ia akan menyelamatkan engkau.”
✨ Hikmat Hari Ini
Membalas kejahatan hanya memperpanjang rantai luka. Mengampuni adalah langkah iman untuk memutusnya.
Biarlah kasih Kristus yang telah lebih dulu mengampuni kita menjadi alasan terbesar untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Sebab dalam kasih, kita menemukan kuasa yang sejati untuk menyembuhkan hati yang terluka.