Sarapan Rohani

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu. – Ams. 22:6

Buku seorang penata rias dan pekerja keras. Ia suka tertidur, mungkin karena jam kerjanya yang panjang. Namun, tiap hari ia bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan kami. Ia juga memberi makan kami dengan firman Allah. Hal pertama yang kami lakukan setelah turun dari lantai atas adalah mendengarkan pembacaan Saat Teduh. Dengan bersandar pada lengan ibuku, aku lebih sering tertidur saat ia membacakan renungan. Sering kali ia mengguncang tengannya untuk membangunkanku dan berkata, “Apakah kamu mengerti?” Atau “Allah sangat baik” dan aku selalu berkata, “Ya.” Ia tahu kalau aku tertidur, tetapi ia tetap memberi tahuku akan pentingnya hubungan dengan Allah. Walaupun aku sering melewatkan kata-katanya, ia tetap mengorbankan tidurnya untuk memastikan bahwa aku memulai hari dengan mendengar firman Allah.

Setelah meninggalkan rumah, aku tidak terlalu memikirkan tentang Allah. Aku hanya akan berdoa saat sedang mengalami masalah. Secara umum aku hidup dengan susah payah. Umurku 45, saat akhirnya aku menyerahkan diri kepada Allah. Banyak orang yang membantuku untuk mengubah hidup. Meskipun ibu sudah meninggal, pengasuhan rohaninya menjadi pusat penerimaanku akan Yesus sebagai Juruselamat. Aku sangat bersyukur sebab Allah memberiku seorang ibu yang penuh kasih dan setia.

Doaku Hari Ini: Tuhan terkasih, bantulah kami untuk menjadi saksi yang setia bagi-Mu hari ini. Berikanlah kami hikmat untuk mengetahui cara untuk menyatakan kasih-Mu kepada mereka yang belum mengenal-Mu. Amin.

Fokus Pikiran: Aku dapat terus berbicara tentang Allah meskipun sepertinya tidak ada yang mendengarkan.