Hukuman yang dijatuhkan Allah kepada manusia

“Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa” (Roma 6:6)

Hukuman yang dijatuhkan Allah kepada manusia, adalah kematian (Kejadian 2:16-17). Dalam perjanjian baru (Roma 6:23) menjelaskan bahwa, upah dosa adalah maut yang dapat diartikan kematian. Itulah, akibat dari dosa yang diperbuat oleh manusia.

Rasul Paulus juga menjelaskan, mengenai pendosa ialah tuntutan-tuntutan hukum Allah, bahwa setiap pendosa demikian patut dihukum mati… (Roma 1:32). Inilah hal yang sangat mengerikan bagi umat manusia.

Tetapi kabar baiknya, adalah kita diberikan pengharapan bahwa, konsekuensi kematian itu dibereskan oleh Anugerah Allah, di dalam Kasih Yesus Kristus melalui kematian-Nya.

Mendalami makna, dari  Roma 6:23-Sebab upah dosa adalah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

upah dosa adalah maut

Dosa adalah pemberontakkan manusia akan aturan-aturan Allah, bukan sesekali jatuh dalam Dosa, membuat kita binasa, tetapi Dosa yang dilakukan dengan sadar dan terus menerus, dan Dosa yang tidak di Ampuni adalah Dosa yang tidak mau minta ampun.

Janji Allah kepada umat-Nya

1 Yohanes 1:9
Jika kita mengaku Dosa kita, maka Ia adalah Setia dan Adil, sehingga Ia akan mengampuni segala Dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

Suatu kali adalah seorang anak dan orang tuanya. Ketika anak mereka tidak taat, yang terjadi adalah hubungannya dengan orang tuanya tidak baik. Orang tua masih mengasihi anaknya dan masih memikirkan kebaikan anaknya.

Anak itu tidak akan digadaikan atau dibuang. Akan tetapi, anak itu mungkin akan mengalami beberapa konsekuensi: ketidakpercayaan, pendisiplinan, rasa bersalah, dan sebagainya. Hubungan itu pada akhirnya dipulihkan, namun biasanya diawali dengan penderitaan terlebih dahulu.

Begitulah keadaannya antara kita dengan Allah. Ketika kita memberontak melawan kuasa Allah dalam kehidupan kita, kita memberontak melawan Kehidupan, dan kita mengalami “kematian” (kondisi kehancuran yang membuat kita menderita).

Ketika kita kembali kepada Allah, kondisi rohani kita dipulihkan – persekutuan dengan Allah, hidup yang bertujuan, kebenaran, kebebasan, dan sebagainya. Sang ayah yang bersyukur atas kembalinya anaknya yang hilang mengatakannya dengan baik: “Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali” (Lukas 15:24).

Hallelujah, amin.

 

%d bloggers like this: